Tampilkan postingan dengan label BERITA BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA BUDAYA. Tampilkan semua postingan

HENDRIK PALI HAMAPATY : PENJAGA WARISAN BUDAYA SUMBA

Written By Admin on Senin, Desember 13, 2010 | Senin, Desember 13, 2010

Oleh : Kornelis Kewa Ama

- Sanggar Seni Oriangu pimpinan Hendrik Pali Hamapaty tak asing bagi warga Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Di sanggar itu, para pejabat, mahasiswa, dan pelajar dari Sumba ataupun luar Sumba, termasuk turis asing, dapat melihat dan mempelajari beberapa seni tradisi lokal Sumba yang masih tersisa.

Sumba terkenal dengan budaya dan tradisi lokalnya. Kepercayaan agama asli Marapu memperkaya khazanah budaya dan tradisi itu. Namun, seiring perkembangan zaman dan masuknya agama baru, perlahan-lahan budaya dan tradisi lokal mulai ditinggalkan masyarakatnya. Hal yang konkret adalah punahnya sejumlah tarian daerah, musik, cerita rakyat, ataupun Marapu sebagai kepercayaan asli Sumba.

Literatur tari tradisional Sumba menyebutkan, ada lebih dari 100 tarian lokal yang menggambarkan kepercayaan kepada Tuhan agama asli Marapu, kehidupan warga, keadilan, kejujuran, pesta panen, dan pesta perkawinan. Namun, sebagian besar tarian itu sudah terlupakan, hanya 22 tarian yang masih bisa ditarikan.

Dari 22 tarian tradisional itu pun 18 di antaranya nyaris hilang. Tarian itu, antara lain, Kabokang (tarian untuk menghormati raja agar selalu jujur dan adil memimpin), Mapandamu (tarian mewujudkan rasa syukur atas kelahiran anak), Kandingan (tarian syukur pada pesta panen), Patanjangung (tarian syukur atas panen perdana), dan Panapang banu (tarian melamar gadis).

Ada juga tarian Ningguharana yang dibawakan pria dan perempuan untuk menyambut pahlawan yang pulang dari peperangan. Kini, tarian itu dibawakan saat menjemput para peserta pasola yang baru pulang dari pertarungan (permainan melempar tongkat kayu sambil menunggang kuda).

Tim Ekspedisi Jejak Peradaban Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ke Pulau Sumba bertemu dengan Hendrik Pali Hamapaty yang prihatin dengan punahnya sejumlah budaya dan tradisi lokal Sumba. Hendrik menilai, budaya dan tradisi Sumba memiliki pesan kuat bagi kehidupan persaudaraan, kebersamaan, kehidupan sosial, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Itu yang memotivasi dia mendirikan Sanggar Oriangu.

Terinspirasi Yogyakarta

Hendrik, pemilik sanggar dan pelestari seni budaya tradisional Sumba ini, terinspirasi kegiatan para seniman di Yogyakarta. Di kota itu, seni bisa menghidupi senimannya. Sementara di daerah seperti Sumba, seniman harus berjuang dan bersusah payah menghidupi keluarganya. Ini belum termasuk mendapatkan dana untuk mempertahankan dan melestarikan tradisi yang sudah dan terancam punah.

”Sepulang dari Yogya tahun 1980, setelah menekuni seni tari di sanggar milik Bagong Sutrisnadi, saya mulai menyosialisasikan tarian-tarian itu di sekolah-sekolah. Kini, hampir semua sekolah dasar dan menengah di Sumba belajar tarian di sanggar ini. Para guru pun belajar tarian untuk melatih para siswa. Bahkan, tarian-tarian yang hampir punah bisa masuk dalam muatan lokal sekolah dasar dan menengah,” katanya.

Sanggar Oriangu pun penuh sesak menjelang 17 Agustus, saat para siswa dan guru menyiapkan diri untuk lomba tarian tradisional. Setiap kelompok harus diajari tarian berbeda dengan modifikasi berbeda pula. Ada tarian berisikan kepahlawanan, pendidikan, keadilan, pengorbanan guru, kehidupan petani di sawah, kejujuran, dan kehidupan sosial.

Tarian yang terancam punah pun kembali populer. Pemerintah kabupaten setempat juga kerap meminta Hendrik menyajikan sejumlah tarian khas Sumba bersama peserta didiknya untuk menyambut kedatangan tamu atau pelantikan pejabat.

Hendrik mengaku sekali pentas dibayar Rp 500.000-Rp 2,5 juta. Jika mereka tampil di hadapan turis asing, bayarannya bisa sampai Rp 5 juta sekali tampil. Uang itu langsung dia bagikan kepada peserta didik yang umumnya anak putus sekolah dan lulusan sekolah menengah yang belum mendapat pekerjaan.

Kalau tak ada permintaan pentas, latihan rutin tetap dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu. Tujuannya agar anak-anak tak berkeliaran di jalanan pada malam Minggu atau hari libur.

Sebanyak 50 anak didik angkatan pertama (1982-1985) sudah menyebar ke sejumlah kecamatan dan desa untuk melatih sekaligus mempelajari dan mengkreasi tarian yang ada. Dari penyebaran anak didik Hendrik ke desa-desa itu, didapatkan lima tarian baru yang belum ditampilkan karena masih perlu dipelajari asal usul dan arti setiap gerakannya.

Sanggar Serba Guna

Hampir 10 angkatan telah belajar di sanggar ini. Oriangu sudah menjadi pusat pembelajaran siswa sekolah dasar dan menengah. Sejumlah sekolah di pedalaman Sumba pun datang ke Sanggar Oriangu untuk belajar tari tradisional.

”Sanggar ini saya bangun atas dukungan dana dari para biarawati Katolik di Denpasar senilai Rp 40 juta. Tujuan awalnya untuk pelestarian tari tradisional dan pelatihan tenun ikat Sumba. Tetapi kemudian berkembang menjadi sanggar serba guna,” ceritanya.

Dinas Tenaga Kerja Sumba Timur pun sering mengirimkan orang untuk mengikuti pelatihan tenun ikat di sanggar ini. Mereka umumnya lulusan sekolah menengah dan sekolah dasar. Oleh karena keterbatasan ruangan, fasilitas pendukung, dan tenaga, Sanggar Oriangu fokus pada kegiatan tarian, musik lokal, dan sastra lisan yang dipercaya bersifat mistis-magis.

Alat musik yang ditekuni Hendrik, antara lain, gong dan tambur yang masih umum digunakan. Keterbatasan tenaga dan dana membuat ia kesulitan mendalami sejumlah alat musik yang telah punah.

”Saya sedang mencari alat musik jungga yang masih tersimpan di desa-desa. Saya butuh orang khusus untuk memainkan alat musik ini. Kalau ada pemainnya, kami akan mengumpulkan generasi muda di sanggar untuk berlatih dan mementaskan jungga di hadapan para turis, pejabat daerah, dan masyarakat luas,” katanya.

Menurut Hendrik, awal 1990-an terdapat 57 sanggar. Namun, keterbatasan dana dan tidak adanya dukungan dari masyarakat mengakibatkan sanggar-sanggar itu tutup.

”Saya bertahan dengan kemampuan amat terbatas. Saya ingin Sumba tetap memiliki semangat kebudayaan asli. Jangan sampai budaya lokal Sumba punah dan yang ada hanya budaya impor. Hal ini mulai terasa sekarang,” kata Hendrik.

[ Sumber : http://oase.kompas.com/read/2010/12/11/08373543/Penjaga.Warisan.Budaya.Sumba ]

Senin, Desember 13, 2010 | 0 komentar | Read More

CIPTAKAN 100 METER TENUN IKAT

Written By Admin on Jumat, November 26, 2010 | Jumat, November 26, 2010

WAINGAPU - Setelah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) melalui penciptaan tenun ikat sepanjang 50 meter (hinggi) dan sarung (lau) sepanjang 25 meter tahun 2007 lalu, pengrajin Sumba Timur kembali ingin memecahkan rekor dunia.

Kali ini, mereka ingin menciptakan tenun ikat Sumba Timur sepanjang 100 meter. Terkait dengan itu, wakil ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumba Timur, Elly Kurniaty Kitu, Rabu (24/11) kemarin mengunjungi pengrajin tersebut di Desa Kaliudah Kecamatan Pahunga Lodu.

“Ini dalam rangka melihat secara langsung persiapan pengrajin tenun ikat di Desa Kaliudah Kecamatan Pahunga Lodu yang ingin menciptakan tenun ikat sepanjang 100 meter. Hari ini (kemarin, red) adalah awal pengrajin disana melakukan pekerjaannya menenun kain dengan motif Sumba Timur sepanjang 100 meter,” kata Elly Kurniaty kepada Timor Express sesaat sebelum bertolak ke Desa Kaliudah.

Disaksikan Timor Express, di Desa Kaliudah selain memantau langsung pengerjaan awal (pamening) tenun ikat Sumba Timur sepanjang 100 meter, Elly Kurniaty Kitu juga memberikan arahan kepada para pengrajin. “Sebagai warga Sumba Timur kita patut berbangga melalui inovasi pengrajin asal Desa Kaliudah Kecamatan Pahunga Lodu yang ingin menciptakan tenun ikat sepanjang 100 meter. Ini sebuah maha karya yang patut dibanggakan oleh seluruh warga Sumba Timur,” tandasnya.

Untuk itu demikian wakil ketua TP PKK yang juga istri Wakil Bupati Sumba Timur, Matius Kitu itu, perlu adanya motivasi dari seluruh elemen masyarakat yang ada di Sumba Timur. “Dari Dekranasda dan TP PKK Sumba Timur sangat mendukung apa yang sudah dilakukan oleh para pengrajin di Desa Kaliudah Kecamatan Pahunga Lodu ini.

Kami atas nama Dekranasda dan TP PKK Sumba Timur juga menyampaikan terima kasih yang dalam atas upaya yang sudah dilakukan oleh para pengrajin dalam rangka mempromosikan Sumba Timur ke dunia luar melalui penciptaan tenun ikat sepanjang 100 meter,” tandasnya.

Salmon Ke Huru, tokoh masyarakat Kecamatan Pahunga Lodu mengungkapkan, ide awal menciptakan tenun ikat sepanjang 100 meter adalah ketika pelantikan Umbu Yiwa Hinggirandja sebagai Kades Kaliudah, 26 Februari 2008 lalu dan baru bisa direalisasikan di tahun ini.

Salmon memprediksi, pembuatan tenun ikat sepanjang 100 meter itu akan menghabiskan 100 lebih bantal benang. “Dalam pembuatan tenun ikat sepanjang 100 meter ini kita melibatkan 60 pengrajin yang berasal dari desa tersebut. Dari alokasi dana desa (ADD) papar Salmon, dialokasikan dana sebesar Rp 2 juta.

“Kita prediksikan untuk pembuatan tenun ikat ini menghabiskan dana sebesar Rp 60 juta yang bersumber dari ADD Kaliudah dan APBD Sumba Timur. Kita menargetkan tenun ikat sepanjang 100 meter ini dapat masuk dalam rekor dunia. Pengerjaannya akan selesai pada bulan Juni atau Juli tahun 2011 nanti,” harapnya.

Sementara itu, Kasubdin Perlindungan Konsumen Dinas Perindag Sumba Timur, David Lomi menjelaskan, untuk program tersebut pihaknya mengalokasi dana sebesar Rp 100 juta lebih. “Tapi saya tidak tahu pasti berapa angkanya. Sekitar Rp 100 juta lebih dana yang dialokasikan untuk pembuatan tenun ikat sepanjang 100 meter itu,” terangnya.

Terpisah, ketua Dekranasda Sumba Timur, Rambu Kahi Yani Mbilijora mengatakan, pihaknya sudah menyalurkan bantuan pada pengrajin Desa Kaliudah sebanyak 40 bantal benang. Selain itu tambah ketua TP PKK Sumba Timur itu, pihaknya juga menyalurkan bantuan gedek bambu secara langsung kepada para pengrajin.

[Sumber : Timor Express]
Jumat, November 26, 2010 | 0 komentar | Read More

WARGA CEKO MINATI KAIN TRADISIONAL INDONESIA

Written By Admin on Minggu, Agustus 08, 2010 | Minggu, Agustus 08, 2010

Penduduk kota Plzen, Ceko, antusias menyaksikan keindahan kain-kain tradisional Indonesia. Menariknya lagi, presentasi kain-kain tradisional itu dilakukan oleh warga Ceko, yang pernah menimba ilmu di Indonesia.

Menurut Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Praha, sebanyak 50 kain tradisional dari seluruh Indonesia dipamerkan di Galeri Manumade, yang telah berusia sekitar 500 tahun. Karya anak-anak bangsa itu dipamerkan mulai 5 Agustus sampai 2 September 2010.

Para pengunjung bisa menyaksikan kain Batik khas Solo, Yogyakarta, Madura, Pekalongan dan Cirebon. Selain itu juga dipamerkan Ulos Sumatra Utara, Tapis Lampung, Tenun Sumba, dan kain khas Bali.

"Masing-masing kain diberi keterangan dalam Bahasa Ceko yang mempermudah para pengunjung memahami filosofi dari setiap motif yang dipamerkan," ujar Kuasa Usaha KBRI Praha, Azis Nurwahyudi, saat membuka pameran pada Kamis, 5 Agustus 2010.

Saat pembukaan pameran, para pengunjung diberi penjelasan langsung dalam Bahasa Ceko oleh Sona Cermakova. Dia adalah mantan penerima program beasiswa "Darmasiswa" di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Dalam presentasi selama sekitar dua jam, Sona, yang fasih berbahasa Indonesia dan Jawa, menjelaskan berbagai perbedaan Batik dan kain-kain dari berbagai daerah lainnya. Sona tidak lupa menceritakan proses pembuatan Batik yang dilengkapi dengan contoh langkah-langkah pembuatannya.

Para pengunjungpun dapat langsung mengenal apa yang disebut dengan membuat pola, menorehkan malam dengan canting, sampai selesai dibuatnya sebuah motif Batik.

Selain presentasi sejumlah kain, Sona juga menjelaskan seni wayang. Dia memberi contoh perbedaan Wayang Kulit dengan Wayang Golek, dan menceritakan keindahan alam serta kehidupan masyarakat Indonesia melalui berbagai foto yang dibuatnya selama tinggal di Yogyakarta.

Para pengunjung juga antusias untuk bertanya mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan pengalamannya selama mengikuti program Darmasiswa. Selepas acara, beberapa anak muda di kota Plzen, yang terkenal dengan produksi bir, mengerumuni Sona dan bertanya tentang program beasiswa tersebut.

Menurut Nurwahyudi, pameran ini merupakan bentuk dukungan Indonesia kepada kota Plzen, yang tengah bersaing meraih predikat sebagai Ibu Kota Budaya Eropa Tahun 2015.

[Sumber : VIVAnews]

Minggu, Agustus 08, 2010 | 0 komentar | Read More

CANDI DI BAWAH LAUT SELAT BALI BIKIN HEBOH

Written By Admin on Rabu, Agustus 04, 2010 | Rabu, Agustus 04, 2010

BALI - Foto bangunan candi di bawah laut beredar di situs microblogging twitter. Gambar itu disebut-sebut diambil dari bawah laut Selat Bali.

Kendati demikian, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata belum bisa memastikan kebenaran gambar foto candi di bawah laut itu. Rencananya, pertemuan Kementerian dengan si pengambil gambar akan digelar pekan depan.

"Ini perlu ditunjukkan kepada ahli telematika," kata Direktur Peninggalan Arkeologi Bawah Air Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Helmi di kantornya, Jakarta, Rabu 4 Agustus 2010.

Surya sedikit mencurigai foto candi bawah laut itu. Karena, gambar air yang ditampilkan itu begitu jernih. Surya bahkan sudah melihat gambar ini sejak dua bulan lalu.

"Tapi logikanya begini, di darat saja kita jarang mendapatkan candi utuh. Apalagi di laut," kata Surya yang juga mantan Direktur Purbakala dan Permusiuman ini.

Gambar candi bawah laut diduga di Selat Bali beredar di twitter


Hal senada diungkapkan Direktur Jenderal Kesejarahan dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Hari Oentarto. Menurut Oentarto, arus di bawah laut itu sangat kencang. Bila ada candi di bawah laut, maka kondisinya akan mengalami kerusakan yang signifikan.

"Saya meragukan kebenarannya. Kalau terbuat dari batu, itu akan menimbulkan korosi," kata Oentarto. Maka itu, dia mengimbau akan dilakukan penelitian lebih lanjut atas temuan gambar itu.

"Apakah itu memang benar candi atau bukan," kata Oentarto di sela pembukaan Pameran Warisan Budaya Bawah Air Indonesia di Museum Nasional ini.

Dalam gambar itu terlihat, bangunan seperti gapura candi berdiri tegak. Tampak pula seorang penyelam berada di dekat lokasi. Gambar lainnya, ada candi yang tertutup karang-karang laut.

Yang pasti di dekat candi ini ada proyek pembangunan terumbu karang buatan atau rumpon. Bisa jadi, candi ini bagian dari proyek tersebut.

[Sumber : Pos Kupang]

Rabu, Agustus 04, 2010 | 0 komentar | Read More

KAMPUNG ADAT WUNGA DI SUMBA TIMUR TERBAKAR

Written By Admin on Minggu, Agustus 01, 2010 | Minggu, Agustus 01, 2010

WAINGAPU - Kampung Adat Wunga yang merupakan kampung pertama orang Sumba terbakar, Rabu (28/7/2010) pukul 12.00 Wita. Tujuh dari 12 rumah di kampung adat ini ludes dilalap api. Kerugian diperkirakan ratusan juta rupiah.

Juru bicara (Wunang) Kampung Adat Wunga, Nggay Mehang Tana (44), saat ditemui di Kampung Wunga, Kamis (29/7/2010), menyatakan api berasal dari salah satu rumah di kampung itu, yaitu rumah adat Marga Pahoka di barat kampung itu.

Api cepat merambat ke seluruh bangunan dan menyambar enam rumah adat di sekitarnya. Angin kencang serta atap dan dinding bangunan terbuat dari alang-alang membuat warga sulit menjinakkan api.

Letak Kampung Wunga yang berada di puncak bukit menyulitkan masuknya bantuan. Di kampung itu tidak ada persediaan air.

Tiga dari tujuh rumah yang terbakar merupakan rumah adat yang baru direhab dengan dana bantuan dari seorang peneliti Jepang bernama Makoto Makoiki (Umbu Haharu) yang pernah melakukan penelitian dan tinggal di kampung ini tahun 1983.

Api juga melalap bahan bangunan untuk Uma Ratu (rumah induk) yang baru dibeli dengan dana bantuan dari peneliti Jepang tersebut. Padahal Uma Ratu sesuai rencana akan dibangun tahun ini.

Mehang Tana mengatakan, sampai hari kedua, pihaknya belum mengetahui sumber api karena dalam rumah pertama yang terbakar tidak ada api di tungku maupun di tempat lain. "Penghuni rumah juga lumpuh. Posisi bagian bangunan yang terbakar berasal dari atap. Jadi kita sendiri bingung," kata Mehang Tana.

Ada Kesalahan Warga
Sesuai kepercayaan Marapu, aliran kepercayaan dari mayoritas warga di kampung itu, musibah terjadi karena ada kesalahan yang dilakukan warga di tempat itu. Penyebab musibah hanya diketahui penafsir Marapu (Puimowal) melalui ritual khusus. Ritual baru dilaksanakan Oktober mendatang.

Dalam ritual itu, katanya, Puimowal akan bermusyawarah dan bertanya kepada leluhur. Jawaban leluhur akan diketahui melalui hati ayam dan hati babi yang dikorbankan.

Mehang Tana mengatakan, jumlah rumah di kampung itu awalnya 23 unit sesuai jumlah marga orang Sumba pertama yang mendiami kampung itu. Namun setelah menyebarnya marga yang ada di kampung itu ke seluruh Sumba serta masuknya agama Kristen, keturunan beberapa marga tidak merawat dan memperbaiki rumah peninggalan nenek moyangnya.

Akibatnya, sampai saat ini yang tersisa hanya 12 rumah, uma ratu baru direncanakan dibangun kembali akhir tahun ini.

Tujuh rumah yang terbakar, yaitu rumah Marga Pahoka, Marga Monanga, Uma Bhakul, Marga Tula Praing, Marga Harkonda Day Kambata (Kalitu ahu), Marga Waimoru II dan Marga Rua. Sementara lima rumah yang tersisa yaitu rumah Marga Ana Ma'ari, rumah Marga Rumbu Wulang, rumah Marga Bohu, rumah Marga Matolang dan rumah Marga Harkondu Mau Mahu.

Sedangkan marga yang rumah adatnya sudah tidak ada lagi di kampung itu, yaitu Marga Ana Lingu, Marga Maketa Iyang Jangga, Maketa Iyang Wawa, Pahoka Majangga, Rua Hai, Waimoru I, Waijelu, Waspatonggulung dan Marga Kombul.

Mehang Tana mengungkapkan, rumah adat dari marga itu tidak lagi dibangun di kampung itu karena keturunannya mayoritas sudah masuk agama Kristen.

Meskipun demikian, setiap upacara adat yang digelar dua tahun sekali Oktober dan Juni bertepatan musim tanam dan musim panen, marga-marga yang tidak memiliki rumah adat di kampung itu tetap diundang.

Mehang Tana mengatakan, kebakaran yang terjadi Rabu siang merupakan yang kedua setelah tahun 1971. Berbagai benda purbakala peninggalan nenek moyang dari tujuh marga di tujuh rumah ikut terbakar. Benda itu selama ini dipakai dalam ritual adat Merapu di kampung itu. Kerugian diperkirakan ratusan juga.

"Biaya pembangunan satu unit rumah adat sekitar Rp 100 juta/unit. Belum termasuk perlengkapan ritual adat setiap rumah," jelasnya.

Benda-benda yang ikut terbakar:

1) Dari rumah Marga Kalitu Ahu: piring kuno 14 buah, parang marapu satu bilah, tombak marapu satu bilah, kawadak (logam berharga yang sudah diukir) emas 30 biji, perak 20 biji, mamuli emas satu buah.

2) Dari rumah marga Rua: Kawadak Perak 15 biji, Mamuli (perhiasan wanita Sumba, red.) satu buah.

3) Rumah Marga Waimoru: Mamuli emas dua buah, Halakululung (emas berbentuk ular, red.) satu batang, kain Raupatuala kuno (ikat kepala lelaki Sumba,red.) sepanjang 2,5 meter satu lembar dan uang Rp 1,3 juta.

4) Rumah Marga Pahoka: Mamuli Mas satu buah, mamuli perak tiga buah, lulu amah perak satu buah, piring kuno 14 buah, kawadak perak dan emas 75 biji, tombak kuno satu batang, para baru empat batang, periuk kuno empat buah, wua wudu (muti emas) 20 biji, gong kuno dari Umaratu yang disimpang di rumah itu enam buah.

5) Uma bhakul: mamuli emas satu buah, mamuli perak satu buah, kawadak 45 lembar, tempayan tanah dua, halakululung satu batang.

6) Rumah Marga Tulapraing: Mamuli emas dua buah, periuk kuno delapan buah, kumbang tanah satu unit, mamuli perak dua buah, tempayan dua buah, Kawadak perak 48 biji, kawadak emas 56 biji, wua wudu 12 buah.

7) Rumah Marga Monanga: kawadak perak dan emas 54 batang, mamuli perak satu, mamuli emas satu.
*Sumber: Sekretaris Desa Wunga, Huki Nggimuwali

[Sumber : Pos Kupang]
Minggu, Agustus 01, 2010 | 0 komentar | Read More

TAHUN 2012 SUMBA TIMUR JADI TUAN RUMAH MTQ

Written By Admin on Kamis, Mei 06, 2010 | Kamis, Mei 06, 2010

WAINGAPU - Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora menegaskan, pihaknya siap menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi NTT tahun 2012 nanti.

Hal itu ditegaskan Bupati Gidion Mbilijora usai membuka MTQ XXIII tingkat Kabupaten Sumba Timur di halaman masjid Agung Al Jihad-Waingapu, Senin (4/5) lalu. MTQ yang diikuti 45 qori dan qoriah dengan tema, Satu Dalam Ukhuwah, Satu Dalam Kebersamaan, Satu Dalam Pembangunan, berlangsung 3-6 Mei, ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora dan pelepasan sejumlah kembang api oleh panitia.

Menurut Gidion, MTQ tidak hanya dilihat sebagai rutinitas lomba seni membaca Alquran dan mencari juara tetapi harus dimaknai sebagai upaya untuk mengetuk kesadaran umat Islam untuk belajar, mengkaji kandungan Alquran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.


MTQ paparnya, harus menjadi momentum pembinaan mental spiritual umat, sehingga bisa melahirkan manusia-manusia yang berkualitas dengan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. “MTQ menjadi wadah pembinaan mental anak-anak dan remaja sehingga mempunyai solidaritas sosial yang tinggi sehingga ketika dewasa, mental dan perilakunya memberikan kesejukan bagi orang lain sekaligus sebagai benteng menghadapi berbagai cobaan serta tidak terjebak dengan pengaruh-pengaruh negatif seperti pergaulan bebas, narkoba dan obat terlarang lainnya,” harapnya.

Menurut Gidion, umat Islam Sumba Timur juga harus membangun komunikasi dengan penganut agama lain dan pemerintah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang damai. ”Tapi yang menjadi kebanggaan saya dan seluruh elemen masyarakat Sumba Timur selama ini bahwa kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Sumba Timur cukup baik dan terjaga sampai hari ini. Ini yang harus tetap kita pertahankan sampai kapanpun karena merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya,” tandasnya.


Gidion mengharapkan, keharmonisan antarumat beragama bisa terus dijaga terutama menjelang pemilukada 3 Juni mendatang. Sebelumnya, ketua Lembaga Penyelenggara Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Sumba Timur, H Muhammad Mujahid Al Qadrie dalam sambutannya menegaskan, 45 qori dan qoriah akan bersaing merebut juara untuk meraih tiket MTQ tingkat Provinsi NTT di Kabupaten Alor. MTQ tingkat Kabupaten Sumba Timur kata dia, dilaksanakan pertama kali tahun 1970.


Ditahun yang sama, Sumba Timur ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan MTQ tingkat Provinsi NTT. “Nah pada tahun 1977, Sumba Timur kembali mendapat kehormatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQ tingkat Provinsi NTT. Tapi sejak saat itu, kita tidak pernah lagi mendapat kesempatan menjadi rumah penyelenggaraan MTQ tingkat Provinsi NTT.

Sebab itu, kami akan mengajukan usulan agar Sumba Timur menjadi tuan rumah MTQ tingkat Provinsi NTT tahun 2012,” nanti ujarnya seraya menjelaskan, dalam kurun waktu 40 tahun pelaksanaan MTQ tingkat provinsi, Sumba Timur selalu melaksanakan MTQ yang berlangsung selama dua tahun sekali dengan melahirkan sejumlah qori dan qoriah terbaik dan berprestasi hingga ke tingkat nasional diantaranya, Usman Al Qadrie (almarhum), H Umar Farouq Al Qadrie, H Abdullah Qabir, Zainab Ahmad, Zainab Yusuf, Armansyah Rusman Mulayar dan Abdul Mutholib Abbas.


[ Sumber : Timor Express]
Kamis, Mei 06, 2010 | 0 komentar | Read More

GEREJA SERUKAN UMAT KRISTEN MEMILIH

Written By Admin on Rabu, April 08, 2009 | Rabu, April 08, 2009

Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dan Konfrensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menyeru umat kristiani untuk ikut memilih dengan menyalurkan aspirasi politik sesuai hati nurani pada pemilu legislatif 9 April 2009.

"Jadilah warga negara Indonesia 100 persen dan juga warga gereja 100 persen," kata Pastor Jemmy Pangkey mengutip seruan PGI dan KWI pada acara doa bersama yang diprakasai Pemprov Sulteng berlangsung di Palu pada Selasa malam.
Sebagai warga negara dan gereja yang baik, umat kristiani tidak memiliki alasan untuk tidak menyalurkan aspirasi politik atau golput pada pesta demokrasi kali ini.

Tetapi, umat krisitiani harus memilih caleg berkualitas yang apat diandalkan mengawal jalannya pemerintahan lima tahun ke depan.

"Kalau mencentang jangan asal centang, namun pilih caleg yang bisa diandalkan kemampuannya," katanya.
Rabu, April 08, 2009 | 0 komentar | Read More