Tampilkan postingan dengan label BERITA KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

150 WARGA DI SUMBA OPERASI KATARAK

Written By Admin on Senin, November 29, 2010 | Senin, November 29, 2010

WAINGAPU - Sekitar 150 penderita katarak dari kalangan warga kurang mampu di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) mendapat pelayanan operasi mata secara gratis. Operasi katarak melibatkan dokter spesialis mata dari Kupang dan Samarinda.

Pelaksanaan operasi katarak gratis berlangsung selama empat hari, Kamis ( 25/11/2010) sampai Minggu (28/11/2010). Ini merupakan rangkaian kegiatan bakti sosial dalam rangka HUT ke-98 Rumah Sakit Kristen (RSK) Lindimara-Waingapu.

Wakil Direktur RSK Lindimara, Stefanus Makambombu, Sabtu (27/11/2010), mengatakan, pelayanan kesehatan dalam rangka HUT RSK Lindimara difokuskan pada operasi katarak karena Sumba merupakan salah satu pulau dengan kasus katarak cukup tinggi.

Dalam operasi katarak kali ini, hanya dalam dua hari penderita yang mendaftar mencapai 200 orang lebih. Dari jumlah tersebut diseleksi lagi mana yang bisa dioperasi dan mana yang tidak bisa. Setelah diseleksi diperoleh sekitar 150 orang yang layak dioperasi.
Para pasien katarak yang dioperasi kali ini, katanya, bukan hanya warga Sumba Timur tetapi ada juga dari Ende, Flores.

"Para penderita katarak dari Ende mengaku mendapat informasi melalui radio," kata Stefanus.

Ia mengatakan, sebenarnya pihaknya tidak membatasi jumlah peserta namun karena keterbatasan waktu para dokter maka pelaksanaan operasi hanya dibatasi sampai hari Minggu (28/11/2010). Itu pun hanya ditangani satu dokter, karena dokter ahli mata dari Samarinda hanya satu hari berada di Waingapu dan sudah kembali pada hari Jumat (26/11/2010) karena urusan keluarga.

Stefanus mengatakan, selain katarak, gondok merupakan penyakit dengan kasus tertinggi di daratan Sumba. Salah satu faktor penyebabnya adalah kekurangan yodium.

Soal rendahnya konsumsi garam beryodium pernah disampaikan salah staf FAO, beberapa waktu lalu. Kekurangan yodium akan berdampak pada menurunnya kecerdasan dan pertumbuhan anak.

[Sumber : Pos Kupang]
Senin, November 29, 2010 | 0 komentar | Read More

KEMATIAN IBU DAN ANAK MASIH TINGGI DI SUMBA

Written By Admin on Jumat, November 26, 2010 | Jumat, November 26, 2010

WAINGAPU - Lembaga kerja sama Australia-Indonesia untuk kesehatan ibu dan anak (AIPMNH) memperpanjang program kerja sama dengan Pemda Sumba Timur dan Sumba Barat sampai 2011. Sebab angka kematian ibu dan anak di daerah ini masih tinggi.

Demikian Ketua AIPMN Propinsi NTT, Mr. Angela dalam lokakarya penyusunan perencanaan program AIPMNH 2011, di Hotel Elvin Waingapu, Senin (22/11/2010).

Lokakarya itu dihadiri Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora dan pejabat Pemda Sumtim dan Sumbar. Lokakarya membahas khusus Program Rrevolusi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan pengenbangannya di tahun 2011.

Angela mengatakan, AIPMNH akan melanjutkan program di Sumba Timur dan Sumba Barat tahun 2011. Dia meminta dukungan dan kerja sama kedua daerah untuk menyukseskan program tersebut, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan.

Dalam rangka penyusunan rencana kerja AIPMNH 2011 itu, kata Angela, digelar lokakarya. Lokakarya bertujuan mengembangkan rencana kerja program AIPMNH yang lebih baik dan tepat guna.


Angela memberikan apresiasi terhadap pemerintah dua kabupaten karena komit mendukung program AIPMNH.
Ia berharap agar pemda dua kabupaten melalui instansi terkait bisa bekerjasama menekan angka kematian ibu dan anak yang menjadi tujuan dari kehadiran Program AIPMNH di dua kabupaten ini.


Bupati Gidion Mbilijora menyatakan menyambut baik kehadiran program AIPMNH di Sumba Timur. Dia mengatakan, beberapa waktu sebelumnya, tim Ausaid melakukan penelitian tentang KIA di Sumba Timur namun hasilnya masih dalam proses dan dan hingga kini belum disampaikan ke pemda setempat.

Ia berharap dinas terkait yang ada di daerah itu bisa bekerjasama mendukung suksesnya Program AIPMNH. Gidion menegaskan, tingginya angka kematian ibu dan anak di daerah ini disebabkan beberapa faktor antara lain pendarahan yang menyebabkan anemia pada ibu hamil dan kurang gizi pada bayi dan balita.

Kabupaten Sumba Timur dalam perubahan APBD II 2010 telah menganggarkan dana untuk membantu program AIPMNH. Untuk mempertegas komitmen pemda dalam mengurangi kematian ibu dan anak, katanya, Pemda Sumtim akan menetapkan Program Revolusi KIA dalam bentuk perda yang segera disahkan akhir tahun ini.

[ Sumber : Pos Kupang ]

Jumat, November 26, 2010 | 0 komentar | Read More

RAYAKAN HKN DENGAN JALAN SANTAI

Written By Admin on Selasa, November 16, 2010 | Selasa, November 16, 2010

Waingapu - Masyarakat di Kabupaten Sumba Timur merayakan Hari Kesehatan Nasional (HKN) dengan melakukan jalan santai bersama, Sabtu (13/11/2010). Kegiatan ini disponsori PT Askes (Persero) Waingapu, BNI Waingapu, WVI, Stimulant, RSU Imanuel, RSK Lindimara, BRI Cabang Waingapu dan Bank NTT Cabang Waingapu.

Jalan santai dimulai dari Lapangan Pahlawan mengitari Jalan Ahmad Yani, masuk ke Matawai lalu kembali ke Lapangan Pahlawan. Kegiatan jalan santai diikuti sekitar 1.000 warga. Dalam kegiatan ini, digelar pula pameran pangan lokal serta berbagai program dari rumah rumah sakit yang ada di Sumba Timur.

Wakil Bupati (Wabup) Sumba Timur, dr. Matius Kitu Sp.B dalam sambutannya, mengatakan, olahraga merupakan kegiatan positif untuk membuat tubuh dan jiwa seseorang sehat. Apalagi dengan berbagai tekanan ekonomi dan beban kerja yang cukup tinggi belakangan ini.

Olahraga ringan dan murah seperti jalan santai, katanya, memberikan efek positif terhadap cara berpikir seseorang. "Jika dahulu ada pepatah mengatakan, di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang sehat, sekarang ini terbalik. Jiwa yang sehat akan membuat tubuh seseorang sehat. Tubuh seseorang tidak akan sehat kalau jiwanya tidak sehat," kata Matius.

Menyadari begitu pentingnya olahraga terhadap kesehatan tubuh seseorang, PT Askes (Persero) Waingapu mewacanakan agar jalan santai menjadi kegiatan rutin setiap hari Jumat di daerah ini. Namun ide positif ini belum disampaikan secara luas.

Jalan santai dalam rangka Hari Kesehatan Nasional di Sumba Timur berakhir dengan penarikan door prize yang disediakan sponsor. Ada kulkas, sepeda, televisi 21 inch, rice cooker, dispencer dan hadiah lainnya.

Pada kesempatan yang sama, panitia memberikan penghargaan kepada dokter teramah, perawat teramah dan perawat yang paling rajin dan terdisiplin. Pemilihan ini dilakukan melalui survei pendapat pasien yang dilakukan Stimulant Institute Sumba.

Hasil survei memilih dr. Putu Wiyana sebagai dokter teramah, Frederika sebagai perawat teramah dan Ngongo Ama sebagai perawat terdisiplin dan terajin.

Ketua panitia, dr. Amsal Ginting berharap, penghargaan ini tidak saja memotivasi mereka yang mendapat penghargaan untuk meningkatkan pelayanan, tapi juga dokter atau perawat yang lain karena sejauh ini masih banyak keluhan masyarakat terhadap pelayanan, terutama keramahan petugas dan paramedis di rumah sakit yang ada di daerah ini.

[Sumber : Pos Kupang]
Selasa, November 16, 2010 | 0 komentar | Read More

PASIEN KELUHKAN PELAYANAN RSU UMBU RARA MEHA

Written By Admin on Kamis, November 11, 2010 | Kamis, November 11, 2010

WAINGAPU - Pelayanan kesehatan bagi pasien Jamkesmas, Jamkesda di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Umbu Rara Meha menjadi masalah yang paling dikeluhkan masyarakat saat dengar pendapat dengan anggota DPRD Sumba Timur, Selasa (9/11/2010).

Acara ini berlangsung di ruang sidang DPRD Sumtim atas inisiatif panitia peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) Sumtim. Acara itu menjadi ajang penyampaian aspirasi masyarakat terkait pelayanan kesehatan di kabupaten ini, khususnya di RSUD Umbu Rara Meha. Sebab, pelayanan di rumah sakit itu dinilai masih diskriminatif.

Sorotan pelayanan kesehatan ini diawali para anggota dewan. Mulai dari masalah sosialisasi program belum optimal serta kesulitan peserta pemegang kartu jamkesmas/jamkesda dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Pdt. Pier Taka dari Fraksi PDIP, mengatakan, dana untuk kesehatan begitu besar namun pelayanan kesehatan khususnya masyarakat miskin tidak sesuai anggaran yang dialokasikan dalam APBD.

Amos Kulandima dari Fraksi PDK menilai banyak informasi tentang pelayanan kesehatan belum sampai ke masyarakat karena minimnya sosialisasi program dari Dinas Kesehatan. Buktinya, kata Amos, masih banyak ibu melahirkan ke dukun daripada di puskesmas atau sarana kesehatan lainnya.

Karel Wosa dari Fraksi Gabungan menyoroti diskriminasi pelayanan terhadap pasien jamkesmas serta terbatasnya jangkauan pelayanan kesehatan ke daerah terpencil.

Sorotan tajam datang dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan kader posyandu. Frederika Nday Ngana dari Pusat Sumber Daya Warga (CRC) Kambajawa menyoroti perilaku para cleaning service di RSUD Umbu Rara Meha yang bekerja saat jam kunjungan, serta kondisi ruang tunggu pasien di Puskemas Waingapu tidak memadai. Juga, soal pelayanan air bersih dan air minum bagi pasien di RSUD Umbu Rara Meha yang hanya dilakukan pada jam makan dan jam minum obat.

"Petugas kebersihan bekerja saat jam kunjungan. Lalu pengunjung dan pasien disalahkan karena dinilai tidak menghargai mereka yang lagi kerja. Bahkan petugas ini tidak segan usir pengunjung yang lalu lalang saat mereka masih membersihkan ruangan. Kita minta manajemen rumah sakit membuat jadwal kerja cleaning service sebelum jam kunjungan," kata Frederica.


Keterbatasan Posyandu
Margaretha dari CRC Warga Prailiu, menyoroti keterbatasan posyandu mengakibatkan pelaksanaan posyandu khususnya penimbangan bayi dilakukan di emperan rumah warga, atau di bawah pohon.

"Bagaimana mau revolusi KIA sedangkan bangunan untuk posyandu tidak memadai. Bidan desa juga hanya hadir saat ada kegiatan posyandu. Kita berhadap dalam perda tentang KIA ada aturan jelas tentang hak dan kewajiban petugas dan para kader posyandu," kata Margaretha.

Seorang peserta dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sumba Timur menyoroti rendahnya tunjangan jasa paramedis untuk persalinan, serta pemangkasan usulan program dari puskesmas.

Beberapa peserta membeberkan perilaku buruh di UGD RSUD Umbu Rara Meha terhadap pasien. Ainun dari WVI mengungkapkan, beberapa waktu lalu ada seorang ibu hendak melahirkan tapi ditolak petugas di RSUD Umbu Rara Meha dengan alasan tidak ada ruangan. Akibatnya ibu itu terpaksa melahirkan di ruangan terbuka. (dea)

Tidak Persulit Pasien

DIREKTUR,RSUD Umbu Rara Meha, dr. Chrisnawan menegaskan, krisis air bersih di rumah sakit itu terjadi akibat pasokan air PDAM macet. Mengantisipasi kondisi ini, ke depan pihaknya telah mengusulkan pembangunan sumur bor pada tahun anggaran 2011. Dia menampik ada perbedaan pelayanan antara peserta jamkesmas, askes dan jamkesda.

Ia mengatakan, peserta jamkesmas/jamkesda gratis opname di klas III. Berbeda dengan pasien umum atau askes. Tapi untuk pelayanan obat tidak ada perbedaan. Petugas rumah sakit tidak mempersulit pasien jamkesmas/jamkesda. Namun untuk sebuah tindak medis dibutuhkan syarat administrasi agar rumah sakit terhindar dari masalah hukum.

"Bukan soal uang. Pasien yang belum mengantongi surat keterangan tidak mampu dari kepala desa/lurah kita tetap layani. Surat keterangan desa/lurah nanti diurus kemudian. Demikian juga pasien rujukan," kata Chrisnawan.

Masyarakat juga menyoroti masalah sarana prasarana dan kebersihan kamar mandi dan kenyamanan pasien di rumah sakit. Chrisnawan mengaku sebelum tahun 2009 sebagian besar kamar mandi/wc rumah sakit tidak berfungsi. Namun akhir tahun 2009 sembilan puluh persen kamar mandi/wc sudah berfungsi. Namun dia menyerah karena tidak mampu menangani keluarga pasien selama belum ada rumah tunggu bagi keluarga pasien, khususnya yang datang dari daerah terpencil.

"Kami saat ini hanya mampu buat satu ruangan untuk ruang tunggu sementara bagi keluarga pasien," katanya.
Tentang para medis yang tak ramah, Chrisnawan mengaku bingung karena berulang kali diberi peringatan tapi tidak berubah. "Ini tugas kita bersama dengan prodi agar ke depan menghasil lulusan berkualitas tidak saja dari sisi akademis tapi juga mental/perilaku. Berbagai cara sudah kita lakukan termasuk menyesuaikan tunjangan. Tetap tidak berubah," kata Chrisnawan.

Ketua DPRD Sumba Timur, Palulu Ndima menyatakan, perawat yang bersikap tidak ramah terhadap pasien sebaiknya berhenti dari profesi ini. "Kalau mau jadi perawat ikuti apa yang dilakukan Bunda Theresa. Kalau tidak bisa lebih baik berhenti saja jadi perawat," kata Palulu.

[Sumber : Pos Kupang]
Kamis, November 11, 2010 | 0 komentar | Read More

PENYAKIT SURRA MASUK SUMBA TIMUR

Written By Admin on Jumat, September 03, 2010 | Jumat, September 03, 2010

Penyakit sura yang selama ini menyerang hewan besar di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya mulai masuk ke wilayah Sumba Timur. Dalam sebulan terakhir ditemukan satu kasus di wilayah bagian barat Sumba Timur.

Informasi yang diperoleh Pos Kupang dari sumber yang berkompeten, Senin (30/8/2010), menyebutkan, sejauh ini baru ditemukan satu kasus ternak yang terserang penyakit sura.

Namun hewan yang terjangkit penyakit sura itu langsung ditembak dan dikubur. Lokasi di sekitar kubur hewan yang terjangkit penyakit sura langsung dilokalisir dan diberi vaksin.
Sebelum penyakit yang menyerang plasma darah itu memasuki Sumba Timur, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur telah melakukan antisipasi penutupan lalu lintas ternak besar dari daerah terjangkit. Bupati Sumba Timur melalui edarannya juga telah meminta kepada dinas peternakan untuk melakukan tindakan karantina terhadap hewan besar yang datang dari luar, terutama kuda-kuda pacuan dari NTB.

Pemerintah Kabupaten Sumba Timur bersama DPRD telah sepakat mengalokasikan anggaran untuk penanggulangan penyakit tersebut. Apalagi Sumba Timur saat ini merupakan pusat pengembangan ternak besar, mulai dari sapi, kuda maupun kerbau dalam rangka mewujudkan daerah ini sebagai lumbung ternak di NTT dan Indonesia pada umumnya.

[Sumber : Pos Kupang]
Jumat, September 03, 2010 | 0 komentar | Read More

KELAPARAN, WARGA EMPAT DESA MULAI MENGKONSUMSI IWI

Written By Admin on Selasa, April 13, 2010 | Selasa, April 13, 2010

WAINGAPU--MI: Sedikitnya 753 keluarga yang bermukim di empat desa di Kecamatan Pinu Pahar, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, mulai mengonsumsi iwi atau ubi hutan karena cadangan pangan mereka habis.

Mereka yang tidak memiliki lagi bahan pangan seperti beras, ketela pohon, jagung, dan kacang tanah, itu tersebar merata di Desa Kawahang, Tawui, Lailunggi, dan Wangga Mbewa.


Hanya dua desa di wilayah kecamatan itu yang luput dari ancaman kelaparan, yakni Ramok dan Mahaniwa. Dua desa itu memiliki sumber air yang kemudian dimanfaatkan warga mengairi areal persawahan.

Kecamatan Pinu Pahar berjarak sekitar 200 kilometer (km) dari Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur. Wilayah di pantai selatan Sumba tersebut merupakan daerah paling parah yang didera kelaparan dari 156 desa yang dilaporkan pemerintah Kabupaten Sumba Timur.

Kelaparan terjadi akibat kemarau panjang yang memicu tanaman pangan gagal panen. Meski kondisi sudah demikian, sampai Senin (12/4) bantuan pangan belum disalurkan ke wilayah terpencil tersebut.

Iwi atau ubi hutan berukuran besar biasa dijadikan pangan alternatif oleh warga pedalaman Sumba Timur saat kelaparan melanda. Tetapi, mengonsumsi iwi harus hati-hati karena bahan pangan itu mengandung zat berbahaya yang kerap menimbulkan mual, bahkan kematian.

"Kami tidak tahu zat apa di dalam iwi, tetapi kami tidak punya makanan lagi," tutur Magdalena Utang Manggi, 40, warga Desa Lailungga.

Menurutnya, untuk menghilangkan racun yang belum diketahui jenisnya itu, iwi yang diambil dari hutan harus diolah menurut cara-cara konvensional sebelum dikonsumsi. Iwi harus dikupas, kemudian diiris menjadi bagian-bagian kecil, selanjutnya dibungkus mengunakan karung plastik sebelum direndam di dalam air sungai selama dua hari dan dua malam. "Selama direndam itulah racunnya keluar," katanya.
Selasa, April 13, 2010 | 0 komentar | Read More

KERACUNAN JAGUNG, SATU ANAK TEWAS, DUA DIRAWAT

Written By Admin on Kamis, Maret 25, 2010 | Kamis, Maret 25, 2010

WAINGAPU - Obet Tamu Ama, bocah berusia enam tahun tewas setelah makan jagung goreng bersama kedua kakaknya. Kedua kakaknya, Yuliana Yohanes (10), dan Jena Jola (12), berhasil diselamatkan setelah mendapat perawat dari Puskesmas Melolo, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim). Ketiganya diduga keracunan jagung goreng.

Peristiwa itu terjadi Selasa (23/3/2010) pukul 24.00 Wita di kediaman para korban di Tilu Kadu, Desa Matawai Atu, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur.

Orangtua korban, Yiwa Hai (45) dan Langu Nani (38), yang ditemui di kediamannya, Rabu (24/3/2010) siang, mengatakan, ketiga anaknya itu muntah-muntah setelah makan jagung goreng. Ketiga korban kemudian dilarikan ke Puskesmas. Namun, hanya dua anaknya yang berhasil diselamatkan. Sedangkan salah satu putranya, Obet Tamu Ama, tidak tertolong meski sempat dilarikan ke puskesmas. "Kejadiannya begitu cepat. Satu jam setelah makan jagung, mereka langsung muntah-muntah," tutur Yiwa Hai.

Yiwa mengatakan, jagung yang dimakan korban dibawanya dari gunung. Jagung itu merupakan imbalan dari hasilnya menjual suara. Yiwa yang berprofesi sebagai penyanyi lagu-lagu daerah Sumba itu, selama ini menjual suaranya ke kampung-kampung untuk mendapatkan makanan bagi keluarganya.

Yiwa mengungkapkan, Obet adalah anak kelima dari enam bersaudara, dan putra pertama dari dua putranya. "Saya tidak kuat melihat kondisi anak saya. Saya kerja keras mencari makan untuk mereka. Tetapi, hasilnya seperti ini," kata Yiwa, berlinang air mata.

Yiwa mengaku bingung mengapa putra putrinya keracunan setelah makan jagung.
Padahal jagung tersebut, kata Yiwa, masih utuh dengan tonkolnya. Adakah kemungkinan jagung itu, jagung benih yang telah tercampur zat kimia? Yiwa mengatakan, kalau jagung benih tidak lagi dalam bentuk tongkol.

Yiwa mengungkapkan, selama ini mereka masih bertahan dengan beras murah atau raskin. Namun setelah raskin habis, kata Yiwa, ia terpaksa mandara (bepergian mencari nafkah) dari kampung ke kampung.

Jika menyanyi pada musim panen, jelas Yiwa, ia biasa minta bayaran dengan uang. Satu kali tampil, lanjutnya, dibayar Rp 100.000,00. Namun pada musim lapar atau rawan pangan saat ini, ia rela dibayar dengan beras atau jagung. "Apa saja yang dikasih saya terima. Yang penting bisa makan," ujarnya.

Yiwa mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya, bahan pangan keluarganya masih bisa berharap dari jagung di kebun. Namun pada tahun ini, demikian Yiwa, seluruh tanaman jagung yang ada di ladangnya kering sebelum dipanen akibat tidak ada hujan.
"Untuk bisa makan, saya harus keluar ke kampung lain. Saat ini tidak ada lagi harapan karena jagung sudah mati semua. Saya berusaha agar anak-anak saya tetap makan. Tetapi sekarang, anak saya mati karena makan jagung," tutur Yiwa, dengan nada suara yang hampir hilang menahan tangis.

Kasus ini sementara dalam penyelidikan Polsek Melolo. Kapolsek Melolo, Ipda Basit Algadrie, yang ditemui Rabu siang mengatakan, polisi telah mengambil sampel muntah dari para korban untuk diteliti lebih jauh penyebab keracunan. Sisa jagung yang dimakan korban sebagai barang bukti.

Basit mengatakan, penyelidikan yang dilakukan polisi hanya untuk mengetahui jangan sampai ada unsur kesengajaan dalam kejadian itu. Sedangkan jenazah korban tidak diotopsi karena pihak keluarga sudah menerima kematian Obet.

*copyright by pos kupang online
Kamis, Maret 25, 2010 | 0 komentar | Read More

RS IMMANUEL OPERASI KATARAK GRATIS

Written By Admin on Selasa, Maret 23, 2010 | Selasa, Maret 23, 2010

WAINGAPU - Rumah Sakit (RS) Immanuel Sumba menggelar operasi katarak gratis. Operasi gratis ini untuk keluarga miskin yang tidak memiliki Jamkesmas atau Askes.

Kegiatan ini berlangsung 17-22 Mei dengan target 1.000 pasien. Pasien yang dilayani tidak saja dari Daratan Sumba tapi juga dari luar Pulau Sumba.

Direktur RS Immanuel Sumba, Dr. Danny Christian ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (23/3/2010) mengungkapkan, operasi katarak gratis hanya berlaku bagi pasien dari keluarga miskin yang tidak memiliki kartu Jamkesmas atau Askes. Sedangkan untuk pasien yang memiliki kartu Jamkesmas dan Askes akan diperlakukan seperti pasien reguler.

Pihaknya kembali menggelar operasi katarak, kata dokter Dany, karena masih banyak pasien katarak di daratan Sumba yang belum terlayani pada kegiatan yang sama beberapa waktu lalu.

"Kami ingin masyarakat Sumba terbebas dari katarak sehingga kita kembali menggelar kegiatan ini. Kami mengimbau masyarakat memanfaatkan kesempatan ini dan segera mendaftar ke rumah sakit Immanuel mulai bulan ini," kata Danny.

*copyright by pos kupang online
Selasa, Maret 23, 2010 | 0 komentar | Read More

OPERASI KATARAK DI SUMBA PADA 17 MEI 2010

WAINGAPU - Operasi katarak yang berlangsung di RS Immanuel Sumba, merupakan hasil dari kerja sama dengan Christofel Blindenmission International Jakarta.

Sesuai rencana kegiatan operasi katarak tersebut, berlangsung satu minggu 17-22 Mei mendatang. Pada April nanti, akan digelar pelatihan peningkatann kualitas perawat di rumah sakit ini.

Pelatihan para perawat ini juga atas kerja sama dengan Komisi Trauma Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) dan Yayasan 118 Jakarta.

Pelatihan itu meliputi, PHTLS (Pre Hospital Trauma Life Support), Basic Life Support (BLS) dan Advanced Life Support (ALS).

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung 19-24 April 2010 di RS Immanuel Sumba, Jalan Nangka Nomor 04 Waingapu.
Kegiatan ini, terbuka untuk perawat dari rumah sakit lain di daratan Sumba dan NTT umumnya.

"Peningkatan kualitas perawat dengan tiga kegiatan pokok dilatarbelakangi tantangan dan tuntutan pelayanan di bidang kesehatan yang terus meningkat. Kalau perawat tidak menguasai teknologi maka kita akan kalah. Apalagi ke depan pelayanan yang dibutuhan yakni cepat dan tepat," ujarnya.

copyright by : pos-kupang online
Selasa, Maret 23, 2010 | 0 komentar | Read More

DESA DI SUMTIM RAWAN PANGAN

Written By Admin on Rabu, Maret 17, 2010 | Rabu, Maret 17, 2010

WAINGAPU - Sebanyak 52 desa dari 121 desa di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) rawan pangan. Sedangkan 69 desa lainnya masuk kategori potensi rawan pangan.

Bupati Sumtim, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, ketika bertemu wartawan dai Jakarta dan Waingapu di rumah jabatan bupati, Jumat (12/3/2010), mengatakan, menyikapi kondisi ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumtim menyiapkan 100 ton beras untuk intervensi 52 desa rawan pangan tersebut.

Gidion menjelaskan, 69 desa berpotensi rawan pangan dan 52 desa rawan pangan tersebar di 20 kecamatan. Sebagian besar daerah yang berpotensi rawan pangan ada di bagi utara dan timur. Ancaman rawan pangan di daerah itu terjadi akibat kekeringan.

Curah hujan yang minim dan tidak merata, kata Gidion, penyebab utama terjadi kekeringan dan gagal tanam pada lahan tadah hujan di daerah itu. "Sebagian besar lahan pertanian di Sumba Timur merupakan sawah tadah hujan. Dari 23.000 hektar (ha) lahan pertanian produktif, hanya 8.000 ha lahan irigasi," paparnya.

Dia mengatakan, kekeringan terlihat di hampir seluruh wilayah di daerah itu. Diantaranya, di Kecamatan Haharu dan Kanatang. Tanaman jagung yang sedang berbunga dan kacang-kacangan di sepanjang jalan dari Kanatang menuju Haharu, kering. Demikian juga volume air di sungai yang melintasi kedua daerah tersebut.

Warga di dua kecamatan itu juga mulai mengeluhkan kondisi pangan mereka yang mulai menipis. Seperti disampaikan Hara Aji (45) dan Yan Bakurawang (50), warga Kampung Pau, Desa Mbatapuhu, Kecamatan Haharu, Kamis (11/3/2010) lalu. Keduanya mengatakan, tahun sebelumnya hasil panen jagung bisa mencapai 200-an karandi (ikat/ 100 batang). Namun musim panen kali ini hanya 100 karandi.

Demikian juga di Desa Napu. Hoky Nggimu Wali, warga RT 04, Kampung Ripu, Dusun Prailangina, Desa Napu mengungkapkan, stok pangan masyarakat di daerah itu sudah menipis. Saat ini mereka hanya mampu bertahan dengan raskin 18 kg/dua bulan. Jika stok pangan ini habis, katanya, masyarakat terpaksa masuk hutan mencari ubi hutan atau Iwi.

Menanggulangi bencana kekeringan yang ada, demikian Gidion, dalam jangka pendek akan dibantu dengan beras rawan pangan. Untuk bantuan jangka pendek, lanjutnya, selain dari cadangan beras pemerintah (CBP) yang ada, ia berharap ada bantuan dari Pemerintah Propinsi NTT dan pemerintah pusat.

Gidion mengatakan, sejauh ini Pemkab Sumtim telah mengajukan permohonan bantuan beras rawan pangan kepada Gubernur NTT sebanyak 500 ton. Namun belum ada jawaban dari gubernur.

Dia mengemukakan, pemerintahannya membutuhkan 1.000 ton beras untuk intervensi ancaman bencana rawan pangan di daerah itu. Penanggulangan jangka panjang, kata Gidion, akan ditempuh dengan mengoptimalkan daerah aliran sungai (DAS).

"Kita mempunyai lahan DAS seluas 1.450 ha. Namun belum dimanfaatkan optimal karena kita kekurangan teknologi pompanisasi. Kita sudah mengajukan permohonan bantuan ke Kementerian Daerah Tertinggal (PDT) dan Pemerintah Propinsi NTT tapi sampai saat ini belum ada jawaban," ungkap Gidion.

Ancaman bencana kelaparan di Sumtim mulai berdampak pada kesehatan para balita. Di Dusun Prailangina dua balita penderita kekurangan gizi. Salah satu penderita bernama Abraham Anugerah Rimbang (1,4 tahun).

Informasi tentang balita kekurangan gizi dan gizi buruk ini diperoleh dari anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pahadang Mangila, di Desa Napu dalam dialog dengan tim dari WVI dan wartawan di Sumba Tkmur dan Jakarta yang mengunjugi desa itu, Kamis (11/3/2010).
*copyright by pos kupang online
Rabu, Maret 17, 2010 | 0 komentar | Read More

ANTISIPASI VIRUS H1N1 SUMTIM PERKETAT PINTU MASUK

Written By Admin on Kamis, Mei 28, 2009 | Kamis, Mei 28, 2009

WAINGAPU - Pemerintah Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) mulai memperketat seluruh pintu masuk ke wilayah itu untuk mengantisipasi masuknya virus H1N1 ke wilayah itu.

Bupati Sumtim, Drs. Gidion Mbilijora mengatakan itu saat ditemui di Waingapu, Senin (25/5/2009) sore. Dia mengatakan sudah mengingatkan dinas peternakan dan instansi terkait untuk mengantisipasi masuknya virus berbahaya itu, dengan memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk, baik melalui udara, laut dan darat.

Selain itu, kata Gidion, pihaknya juga sudah memerintahkan dinas peternakan untuk terus memantau perkembangan peternakan babi di Sumtim. "Dinas Peternakan kita minta terus memantau keadaan ternak babi yang ada di masyarakat. Jangan sampai ada gejala ke sana. Tetapi sejauh ini belum ada laporan dari masyarakat ada babi yang mati mendadak," kata Gidion.

Menurut dia, dengan merebaknya virus H1N1 di beberapa daerah di indonesia, maka seluruh ternak babi yang masuk ke wilayah Sumtim harus melalui pemeriksaan yang ketat.

"Kita perketat masuknya ternak babi dari Flores dan Sumba Barat," kata Gidion.
Sementara mengenai pemeriksaan kesehatan terhadap manusia yang masuk keluar wiayah Kabupaten Sumtim, melalui pelabuhan udara belum bisa dilakukan karena daerah itu belum mempunyai fasilitas untuk mendeteksi virus H1N1 yang tertular pada manusia.

Meski demikian, kata Gidion, instansi terkait tetap diminta siaga jika ditemukan ada gejala virus H1N1 pada manusia. "Dinas kesehatan, dinas pariwisata, juga diminta mengawasi wisatawan yang masuk ke Sumtim karena mereka berpotensi tertular virus itu," jelas Gidion.

*Sumber : POS KUPANG*
Kamis, Mei 28, 2009 | 0 komentar | Read More

WARGA WAINGAPU KESULITAN AIR BERSIH

Written By Admin on Selasa, April 21, 2009 | Selasa, April 21, 2009

WAINGAPU - Warga Kota Waingapu, di wilayah Payeti hingga Padadita, Kelurahan Prailiu dan sebagian warga Kampung Arab, selama beberapa hari terakhir kesulitan air bersih. Macetnya suplai air bersih PDAM ke wilayah ini akibat pecahnya pipa induk ukuran 8 dim dari Jurusan Mbatakapidu atau sekitar tiga kilometer dari bak penampung di Mata Air Mbatakapidu.

Kondisi ini membuat warga terpaksa membeli air mineral untuk kebutuhan masak dan mandi. Ada juga yang membeli air tanki dengan harga melambung. Untuk mencuci, warga sekitar lokasi ini terpaksa mencari sungai atau sumber air terdekat.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PDAM Sumba Timur, Umbu Nday yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/4/2009), mengatakan, sejak sabtu pekan lalu pihaknya sudah mengerahkan petugas teknis untuk melakukan perbaikan jaringan yang pecah dan sudah selesai diganti.
Namun persoalan berikutnya, jelas Umbu Nday, jaringan pipa yang mensuplai air ke pemukiman penduduk sepanjang 300 mil kemasukan udara sehingga air tidak bisa dialirkan. Untuk itu, petugas harus mengeluarkan udara dalam pipa.

"Kalau kita tidak keluarkan udara dari pipa maka air tidak bisa mengalir. Kita upayakan secepatnya distribusi air ke lokasi itu bisa normal kembali," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, daerah yang tidak terkena dampak pecahnya pipa, yakni Kantor Daerah Sumba Timur atau sepanjang Jalan Soeharto karena suplai air di lokasi tersebut diambil dari mata air di Km 10.

Umbu Nday juga mengaku menjelang musim kemarau debit air di sumber mata air menurun. "Rata-rata penurunan debit air pada musim kemarau di Sumba Timur 30 persen dari rata-rata produksi 2.956.500 m3/ tahun," jelasnya.
Tarif Air Rendah

Dia juga mengatakan bahwa tarif air PDAM di Sumba Timur masih sangat rendah. "Tarif dasar PDAM kita terendah di NTT. Tarif dasar untuk rumah tangga masih Rp 400,00/m3. Baru tahun 2008 ada perbaikan dan membagi dalam tiga kelompok tapi perubahannya hanya sedikit. Pelanggan kelompok A tarif dasar Rp 400,00/ m3, kelompok B Rp 600,00/ m3 dan kelompok C Rp 800,00/ m3. Kita tidak bisa naikan tarff lebih dari itu karena angka itu yang ditetapkan pemerintah dan DPRD," jelasnya.

Dia mengungkapkan, harga jual air PDAM ke pelanggan jauh lebih rendah dari biaya produksi. "Rata-rata harga jual air ke masyarakat pelanggan Rp 986,68/m3. Sedangkan biaya produksi Rp 1.512/ m3," ungkapnya.

Harga jual jauh di bawah biaya produksii, terang Umbu Nday, mengakibatkan kerugian PDAM mencapai ratusan juta rupiah setiap tahun. Pada tahun 2007 PDAM Sumtim menderita kerugian Rp 820.334.292 dan tahun 2008 Rp 646.419.825.

Bupati Sumtim, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, juga mengakui usia jaringan perpiaan yang ada di wilayah ini sudah tua dan berdampak kepada suplai air kepada masyarakat. Namun tentang kerugian PDAM, kata Gidion, tidak semata-mata karena tarif murah dan gangguan jaringan, tapi juga karena manajemen pengelolaan keuangan di PDAM yang kurang efisien.
Selasa, April 21, 2009 | 1 komentar | Read More

KELELAHAN, ANGGOTA KPPS MENINGGAL DUNIA

Written By Admin on Sabtu, April 11, 2009 | Sabtu, April 11, 2009

WAINGAPU - Proses pemungutan suara sampai penghitungan suara di tingkat PPS (panitia pemungutan suara), Kamis (9/4/2009), sungguh membuat lelah petugas di TPS. Pemungutan suara dimulai pukul 07.00 sampai pukul 13.00 siang. Selanjutnya penghitungan suara sampai pengisian ribuan lembar formulir oleh petugas KPPS membuat segenap anggota PPS harus bertahan di TPS sehari penuh, sampai Jumat (10/4/2009) pagi, bahkan siang.

Salah seorang anggota PPS (Panitia Pemungutan Suara) di Kelurahan Kambajawa, Kabupaten Sumba Timur, Mario Bale Mema (46), kelelahan dan meninggal dunia pada hari Kamis (9/4/2009) sekitar pukul 16.50 Wita.

Bale Mema menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah pelaksanaan pemungutan suara.
Informasi yang dihimpun PK di rumah duka, kemarin, korban kelelahan setelah dua hari tidak tidur sejak mempersiapkan pembuatan TPS sampai pelaksanaan pemungutan suara. Korban adalah Ketua RT 11/RW III di Kelurahan Kambajawa. Dia juga anggota KPPS (kelompok penyelenggara pemungutan suara) di Kelurahan Kambajawa yang bertugas di TPS III, kelurahan setempat.

Informasi dari salah seorang kerabatnya, korban selama dua hari menjelang pemungutan suara, selalu pulang pagi karena mempersiapkan TPS dan berbagai kelengkapan di TPS.
Menurut pihak keluarga, korban yang baru lolos CPNSD dalam penjaringan PNS tahun 2008 itu selama ini tidak pernah mengeluh sakit. Dia bahkan sudah merencanakan pada hari Jumat, kemarin, bersama salah seorang kerabatnya ke luar kota untuk urusan keluarga. Namun usai pemungutan suara dia meninggal dunia.

Tinggalkan isteri dan tiga orang anak
Menurut keluarga, korban mengeluh sesak napas pada pukul 16.35 Wita, Kamis, dan langsung dilarikan ke RSUD Umu Rara Meha Waingapu. Namun belum sempat mendapat pertolongan medis, korban telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sejauh ini belum ada keterangan dari pihak rumah sakit. Tetapi dari informasi yang diterima pihak keluarga dari dokter yang melakukan visum terhadap jenazah korban, diduga korban meninggal karena serangan jantung.

Isteri korban, Ny. Dorkas Harobu terpukul dengan kepergian suaminya. Namun dia terlihat pasrah. Dengan wajah sendu, isteri korban menatap jenazah suaminya yang terbaring di depannya. Tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.

Pihak KPUD Sumba Timur hingga kemarin siang belum melayat ke rumah duka. Sesuai rencana, keluarga akan membawa jenazah korban ke kampung halamannya di Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya pada hari ini, Sabtu (11/4/2009). PK
Sabtu, April 11, 2009 | 0 komentar | Read More

PT ASKES BANTU MOBIL AMBULANCE

Written By Admin on Jumat, Maret 20, 2009 | Jumat, Maret 20, 2009

WAINGAPU - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur akan mendapat bantuan satu unit mobil ambulance dari PT Asuransi Kesehatan (Askes). Penyerahan bantuan dilakukan Direktur Operasional (Dirop) PT Askes Pusat, Umbu M Marisi.

Menurut Kasie Humas, M Alsihab kepada Timex di Waingapu, Kamis (19/3) kemarin, acara penyerahan bantuan satu unit mobil ambulance oleh PT Askes digelar di gedung lama DPRD Sumba Timur, Senin (23/3) nanti. "Kami sudah koordinasikan dengan Bagian Protokol Pemkab Sumba Timur tentang jadwal acara itu," jelasnya.

Dikatakan, untuk NTT, selain Sumba Timur, bantuan mobil ambulance juga diserahkan PT Askes pada Pemkab Kupang dan Pemkab Flores Timur. Di seluruh Indonesia sambung Alsihab, sudah disalurkan sebanyak 44 unit mobil ambulance. "Di Sumba Timur pada Senin 23 Maret nanti, bantuan mobil ambulance tersebut akan diterima bupati yang kemudian diserahkan pada RSUD Umbu Rara Meha Waingapu," imbuhnya.< Dipilihnya RS milik pemerintah itu terangnya, karena memiliki hubungan kerja dengan PT Askes. "Ini juga sebagai wujud kepedulian PT Askes terhadap masalah kesehatan di Inonesia dan Sumba Timur khususnya," ujarnya.

Usai penyerahan bantuan mobil ambulance kata Alsihab, Dirop PT Askes Umbu M Marisi melanjutkan kunjungannya ke Kabupaten Sumba Barat guna memantau persiapan penandatangan MoU Program Jaringan Kesehatan Masyarakat Umum (PJKMU) yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini. "Bantuan mobil ambulance tersebut merupakan program 2008 yang direalisasikan tahun ini," papar Alsihab.

Ditempat terpisah, Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora membenarkan adanya acara tersebut. "PT Askes adalah mitra pemerintah dalam pelayanan kesehatan pada masyarakat. Salah satu wujud kemitraan itu melalui bantuan satu unit mobil ambulance pada Pemkab Sumba Timur yang acaranya berlangsung, Senin 23 Maret nanti," tukasnya. Timex
Jumat, Maret 20, 2009 | 0 komentar | Read More