DESA DI SUMTIM RAWAN PANGAN

Written By Admin on Rabu, Maret 17, 2010 | Rabu, Maret 17, 2010

WAINGAPU - Sebanyak 52 desa dari 121 desa di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) rawan pangan. Sedangkan 69 desa lainnya masuk kategori potensi rawan pangan.

Bupati Sumtim, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, ketika bertemu wartawan dai Jakarta dan Waingapu di rumah jabatan bupati, Jumat (12/3/2010), mengatakan, menyikapi kondisi ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumtim menyiapkan 100 ton beras untuk intervensi 52 desa rawan pangan tersebut.

Gidion menjelaskan, 69 desa berpotensi rawan pangan dan 52 desa rawan pangan tersebar di 20 kecamatan. Sebagian besar daerah yang berpotensi rawan pangan ada di bagi utara dan timur. Ancaman rawan pangan di daerah itu terjadi akibat kekeringan.

Curah hujan yang minim dan tidak merata, kata Gidion, penyebab utama terjadi kekeringan dan gagal tanam pada lahan tadah hujan di daerah itu. "Sebagian besar lahan pertanian di Sumba Timur merupakan sawah tadah hujan. Dari 23.000 hektar (ha) lahan pertanian produktif, hanya 8.000 ha lahan irigasi," paparnya.

Dia mengatakan, kekeringan terlihat di hampir seluruh wilayah di daerah itu. Diantaranya, di Kecamatan Haharu dan Kanatang. Tanaman jagung yang sedang berbunga dan kacang-kacangan di sepanjang jalan dari Kanatang menuju Haharu, kering. Demikian juga volume air di sungai yang melintasi kedua daerah tersebut.

Warga di dua kecamatan itu juga mulai mengeluhkan kondisi pangan mereka yang mulai menipis. Seperti disampaikan Hara Aji (45) dan Yan Bakurawang (50), warga Kampung Pau, Desa Mbatapuhu, Kecamatan Haharu, Kamis (11/3/2010) lalu. Keduanya mengatakan, tahun sebelumnya hasil panen jagung bisa mencapai 200-an karandi (ikat/ 100 batang). Namun musim panen kali ini hanya 100 karandi.

Demikian juga di Desa Napu. Hoky Nggimu Wali, warga RT 04, Kampung Ripu, Dusun Prailangina, Desa Napu mengungkapkan, stok pangan masyarakat di daerah itu sudah menipis. Saat ini mereka hanya mampu bertahan dengan raskin 18 kg/dua bulan. Jika stok pangan ini habis, katanya, masyarakat terpaksa masuk hutan mencari ubi hutan atau Iwi.

Menanggulangi bencana kekeringan yang ada, demikian Gidion, dalam jangka pendek akan dibantu dengan beras rawan pangan. Untuk bantuan jangka pendek, lanjutnya, selain dari cadangan beras pemerintah (CBP) yang ada, ia berharap ada bantuan dari Pemerintah Propinsi NTT dan pemerintah pusat.

Gidion mengatakan, sejauh ini Pemkab Sumtim telah mengajukan permohonan bantuan beras rawan pangan kepada Gubernur NTT sebanyak 500 ton. Namun belum ada jawaban dari gubernur.

Dia mengemukakan, pemerintahannya membutuhkan 1.000 ton beras untuk intervensi ancaman bencana rawan pangan di daerah itu. Penanggulangan jangka panjang, kata Gidion, akan ditempuh dengan mengoptimalkan daerah aliran sungai (DAS).

"Kita mempunyai lahan DAS seluas 1.450 ha. Namun belum dimanfaatkan optimal karena kita kekurangan teknologi pompanisasi. Kita sudah mengajukan permohonan bantuan ke Kementerian Daerah Tertinggal (PDT) dan Pemerintah Propinsi NTT tapi sampai saat ini belum ada jawaban," ungkap Gidion.

Ancaman bencana kelaparan di Sumtim mulai berdampak pada kesehatan para balita. Di Dusun Prailangina dua balita penderita kekurangan gizi. Salah satu penderita bernama Abraham Anugerah Rimbang (1,4 tahun).

Informasi tentang balita kekurangan gizi dan gizi buruk ini diperoleh dari anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pahadang Mangila, di Desa Napu dalam dialog dengan tim dari WVI dan wartawan di Sumba Tkmur dan Jakarta yang mengunjugi desa itu, Kamis (11/3/2010).
*copyright by pos kupang online

0 komentar:

Poskan Komentar