24 WARGA TEWAS DI JALAN

Written By Admin on Jumat, Desember 31, 2010 | Jumat, Desember 31, 2010

WAINGAPU - Sebanyak 24 warga Sumba Timur (Sumtim) tewas di jalan raya selama tahun 2010. Jumlah ini menurun dibanding tahun 2009. Namun dari sisi angka kecelakaan lalu lintas mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2009 hanya 26 kasus, pada tahun 2010 naik menjadi 55 kasus.

Data ini diperoleh dari Satuan Lantas Polres Sumba Timur, Selasa (28/12/2010). Dari data yang ada, selama lima tahun terakhir, jumlah kasus kecelakaan lalu lintas di Sumtim fluktuatif dan cenderung meningkat.

Pada tahun 2005, misalnya, kecelakaan lalu lintas di daerah itu hanya 25 kasus dengan jumlah korban 26 meninggal dunia, sembilan luka berat, 18 luka ringan, total kerugian material Rp 40.300.000,00. Tahun 2006 meningkat menjadi 39 kasus, 18 korban tewas, 20 luka berat dan 37 luka ringan, total kerugian material Rp 91.700.000,00. Tahun 2007, 40 kasus, jumlah korban tewas 25 orang, 15 luka berat, 53 luka ringan, total kerugian material Rp 81.700.000,00.

Tahun 2008, 52 kasus, jumlah korban tewas 39 orang, 20 luka berat dan 29 korban luka ringan, kerugian material Rp 151.400.000,00. Tahun 2009, 26 kasus, jumlah korban tewas 27 orang, 15 luka berat dan 31 luka ringan, kerugian material Rp 128.400.000. Tahun 2010, terjadi 55 kasus, jumlah korban korban tewas 24 orang, 24 luka berat dan 31 luka ringan, kerugian negara Rp 163.050.000,00.

KBO Satlantas Polres Sumba Timur, Ipda Muhammad Amirul Hakim, ditemui di Mapolres Sumba Timur, Selasa (28/12/2010), mengatakan, meningkatnya kasus lakalantas di Sumtim umumnya karena kesalahan manusia atau pengendara.
Ia mengatakan, para pengendara yang mengalami kecelakaan umumnya tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM).

Kecelakaan lalin yang sebagian besar terjadi di Kota Waingapu, kata Amirul, juga disebabkan meningkatnya jumlah kendaraan di daerah itu. Sementara luas jalan tetap. Sampai November 2010, katanya, jumlah kendaraan di Sumtim 25.866 unit, terdiri dari kendaraan roda empat 1667 unit, roda dua 23.142 dan 57 unit kendaraan khusus.

[Sumber : Pos Kupang]
Jumat, Desember 31, 2010 | 0 komentar | Read More

HARGA BAHAN KEBUTUHAN POKOK MELONJAK

WAINGAPU - Harga bahan kebutuhan pokok dan bumbu-bumbuan yang dijual pedagang di wilayah Kota Waingapu melonjak tajam. Lonjakan harga kebutuhan pokok dan bumbu-bumbuan itu sudah terjadi seminggu menjelang perayaan Natal.

Lonjakan harga terjadi pada bawang merah, bawang putih, cabe keriting, merica, cabe rawit, tomat, minyak goreng dan juga beras. Para pedagang mengaku lonjakan harga terjadi dari tingkat produsen. Mereka hanya mengikuti kenaikan yang ada. Telur ayam juga mengalami lonjakan harga yang cukup tajam.

Harga beras medium mengalami kenaikan antara Rp 500,00-Rp 1000,00/kg, telur ayam mengalami kenaikan Rp 9.000,00/papan (30 butir), minyak goreng naik Rp 5.000,00/jerigen (lima liter), kentang naik Rp 6.000,00/kg, bawang merah dan bawang putih naik Rp 10.000,00/ kg, cabe keriting mengalami kenaikan Rp 15.000,00/kg, cabe rawit mengalami kenaikan Rp 20.000,00/kg, dan merica Rp 15.000,00/kg.

Menurut salah seorang pedagang di Pasar Inpres Matawai, Waingapu, kenaikan harga bumbu-bumbuan dan bahan kebutuhan pokok terjadi dari produsen di Jawa dan NTB. Pihaknya, kata lelaki yang biasa disapa Bapak Bima ini, hanya mengikuti kenaikan harga yang ada.

Ia mengatakan, harga bahan kebutuhan pokok dan bumbu-bumbuan ini diperkirakan masih akan tinggi sampai tahun baru 2011. Namun ada sebagian pedagang mengatakan, kenaikan harga bahan kebutuhan pokok dan bumbu-bumbuan di Kota Waingapu dipicu cuaca buruk yang menyebabkan transportasi laut dari produsen di wilayah barat seperti NTB dan Jawa Timur serta Sulawesi terhenti.

Harga kebutuhan pokok dan bumbuan di
Waingapu per tanggal 23 Desember 2010:
Jenis barang 16/12 (Rp) 23/12 (Rp)
Beras Bulog 6.000,00 6.500,00
Beras Membramo 6.500,00 7.000,00
Beras Makasar 6.500,00 7.000,00
Bawang merah 20.000,00 30.000,00
Bawang putih 22.000,00 30.000,00
Cabe keriting 35.000,00 50.000,00
Cabe Rawit 20.000,00 40.000,00
Kentang 8.000,00 14.000,00
Minyak goreng 55.000,00 60.000,00
Merica 45.000,00 55.000,00
Wortel 15.000,00 20.000,00
-------------------------------------
Sumber: Pantauan Pos Kupang di Pasar Matawai Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

[Sumber : Pos Kupang]
Jumat, Desember 31, 2010 | 0 komentar | Read More

MERRY CHRISTMAS 2010

Written By Admin on Jumat, Desember 24, 2010 | Jumat, Desember 24, 2010


TERANG YANG SESUNGGUHNYA SEDANG DATANG KE DALAM DUNIA
(bdk. Yoh. 1:9)
Jumat, Desember 24, 2010 | 0 komentar | Read More

SUMBA TIMUR RAIH PENGHARGAAN RUMPUT LAUT

Written By Admin on Rabu, Desember 22, 2010 | Rabu, Desember 22, 2010

Waingapu - Pemerintah Daerah (Pemda) Sumba Timur mendapat penghargaan pertama Daerah Pengembang Klaster/ Minapolitan Industri Rumput Laut tahun 2010 dari Menteri Kelautan dan Perikanan.

Pemda Sumba Timur berhasil meraih peringkat pertama untuk pengembangan rumput laut karena prestasinya mengembangkan klaster industri rumput laut dalam bentuk produk chips.

Penghargaan ini diserahkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad kepada Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si pada peringatan Hari Nusantara di Balikpapan, 13 Desember 2010.

Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/12/2010), mengatakan, Pemda Sumba Timur meraih penghargaan pertama dari Menteri Kehutanan karena menjadi pemerintah daerah pertama yang memiliki pabrik rumput laut dan berhasil memproduksi chips.

"Kalau daerah lain, industri rumput laut pada umumnya milik swasta. Kita di Sumba Timur milik pemerintah daerah," kata Gidion.

Dia mengungkapkan, dalam rangka pengembangan industri rumput laut, Pemda Sumba Timur bersama DPRD dalam waktu dekat akan membahas perda mengenai bentuk perusahaan yang menaungi industri rumput laut di daerah itu.

Menurut Gidion, pemerintah mengusulkan pengelolaan industri rumput laut di daerah ini dengan manajemen perseroan terbatas. Untuk modal awal, kata Gidion, pemerintah daerah telah menyiapkan dana Rp 5 miliar.

Sementara Direktur Pabrik Rumput Laut Algae Sumba Timur Lestari, IGA Nyoman Sitawati, dalam rapat paripurna bersama DPRD beberapa waktu lalu, mengatakan, pabrik rumpu laut Algae Sumba Timur Lestari bisa berkembang dan meraih keuntungan jika mendapat tambahan dana Rp 11 miliar.

Dengan dana sebesar itu, pabrik rumput laut, Algae Sumba Timur Lestari bisa mengekspor sendiri produk-produknya ke pasar dunia.

Selain penghargaan di bidang pengembangan industri rumput laut, Kabupaten Sumba Timur juga mendapat penghargaan Manggala Wana Bhakti sebagai daerah peduli kehutanan 2010 dari Menteri Kehutanan bersama 20 kabupaten lainnya di Indonesia.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung Menteri Kehutanan kepada Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora,M.Si tanggal 4 Desember 2010. Penghargaan ini diberikan dalam rangka lomba penghijauan dan konservasi alam wana lestari tahun 2010. Untuk Propinsi NTT, kata Gidion, hanya Sumba Timur yang mendapat penghargaan tersebut.

Dia mengungkapkan, Sumba Timur terpilih sebagai salah satu daerah yang mendapat penghargaan bergengsi di bidang kehutanan karena intensitas penanaman pohon yang dilakukan pemerintah, swasta dan masyarkat di daerah ini.

[Sumber : Pos Kupang]
Rabu, Desember 22, 2010 | 0 komentar | Read More

PT FATHI RESOURCH INVESTASI 1 TRILIUN

Written By Admin on Selasa, Desember 21, 2010 | Selasa, Desember 21, 2010

POS KUPANG - Direktur PT Fathi Resourch, Chandra yang ditemui di lokasi tambang, Desa Wanggameti, Jumat (17/12/2010), mengatakan, pihaknya menyiapkan dana Rp 1 triliun untuk investasi tambang emas di Wanggameti. Dari investasi itu, pihak perusahaan hanya mengambil 30 persen, sedangkan 70 persennya menjadi milik pemerintah.

Dia menegaskan, dalam melakukan kegiatan eksplorasi, pihaknya tidak pernah menggunakan alat berat seperti yang dilaporkan pihak lain kepada menteri, gubernur, DPRD dan kepolisian. Selama ini, lanjutnya, perusahaan menggunakan tenaga manusia yang membantu eksplorasi tersebut.

Saat ini, katanya, PT Fathi Resourch menggunakan tenaga lokal untuk mengangkat mesin bor, material hasil pengeboran dan pekerjaan lainnya. Tenaga luar, katanya, hanya tenaga teknisnya.

Chandra menegaskan, sudah dua tahun berada di Wanggameti, perusahaannya tidak pernah melakukan ekploitasi, apalagi menggunakan alat berat. Dia membantah tuduhan bahwa perusahaannya telah mengangkut berton-ton material galian ke luar Sumba. Yang diangkut hanya sampel untuk penelitian laboratorium.

Warga Desa Wanggameti, Ina Rara Meha, Ana Hina, Timun Kawou Manggang, Petrus Mangutung Gahar serta Kepala Desa Wanggameti, Umbu Tay Maramba Hamu mengaku tidak pernah melihat truk yang mengangkut batu dari desa itu. Mereka juga tidak pernah melihat alat berat menumbangkan pohon-pohon.

[Sumber : Pos Kupang]
Selasa, Desember 21, 2010 | 2 komentar | Read More