KEKERINGAN DI MUSIM PEMILUKADA

Written By Admin on Rabu, April 21, 2010 | Rabu, April 21, 2010

KEKERINGAN yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) bukanlah sebuah kabar baru bagi masyarakat di propinsi kepulauan ini, karena setiap tahun memang terjadi.

NTT yang terdiri atas 566 pulau ini, setiap tahun hanya mendapat jatah musim hujan antara 3-4 bulan, sedang sisanya merupakan musim kemarau, sehingga masalah kekeringan bukanlah peristiwa baru yang harus dipersoalkan.

Pada musim tanam 2010, sebagian besar lahan pertanian rakyat gagal panen akibat kekeringan berkepanjangan. Situasi yang sama, juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Namun, kekeringan saat ini menjadi berita hangat karena bertepatan dengan musim pemilu kepala daerah (Pemilu Kada ) di sejumlah kabupaten NTT.


Pada 2010, ada enam kabupaten di NTT yang akan menyelenggarakan Pemilu Kada, yakni Sumba Timur, Sumba Barat, Manggarai, Manggarai Barat, Flores Timur, Ngada.


Sumba Timur merupakan wilayah terparah dilanda kekeringan tahun ini. Menko Kesra Agung Laksono berkunjung ke wilayah timur Pulau Sumba itu, Sabtu (18/4), untuk melihat seberapa parah kekeringan yang melanda Sumba Timur.

Mantan Ketua DPR-RI itu memberikan bantuan kemanusiaan kepada para petani setempat berupa 400 ton beras dan uang tunai Rp 500 juta.


Agung Laksono mengakui, kekeringan telah berdampak pada gagal tanam dan gagal panen, namun kondisi yang dihadapi masyarakat setempat belum dikategorikan sebagai bencana.

"Yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana mengoptimalkan daerah aliran sungai (DAS) yang ada untuk kepentingan pertanian. Misalnya, untuk tanaman palawija dan hortikultura," katanya.


Kunjungan Menko Kesra ke Sumba Timur ini dinilai sarat muatan politik, karena dilakukan menjelang berlangsungnya pemilu Kada di wilayah itu.


Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora kembali bertarung dalam laga Pemilu Kada di Sumba Timur pada Juni mendatang.


"Saya harapkan semua pihak untuk tidak mengaitkan rawan pangan yang melanda masyarakat di daerah ini dengan proses Pemilu kada periode 2010-2015 yang sedang berproses saat ini," kata Gidion.

"Rawan pangan adalah masalah kemanusiaan yang tidak pantas dikaitkan dengan proses politik Pemilu kada yang sedang berlangsung saat ini," katanya.


Strategi politik yang dimainkan adalah meminta bantuan beras sebanyak mungkin dari pemerintah propinsi dan pusat untuk dibagikan kepada masyarakat menjelang Pemilu Kada yang akan berlangsung pada 3 Juni mendatang.


"Kalaupun ada yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan politik, itu namanya menari di atas penderitaan rakyat. Ini bencana di luar kemampuan kita sebagai manusia," katanya.

Krisis pangan di Sumba Timur melanda lebih dari 150 desa akibat kemarau panjang pada 2010 sehingga para petani gagal panen.

COPYRIGHT BY : POS-KUPANG ONLINE

0 komentar:

Poskan Komentar