LAHAN KRITIS DI SUMBA TIMUR MENCAPAI 537.000 HEKTAR

Written By Admin on Rabu, April 21, 2010 | Rabu, April 21, 2010

WAINGAPU - Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora mengaku bila jumlah lahan kritis di wilayah tersebut masih sangat tinggi.

Saat ini, kata Gidion Mbilijora kepada Timor Express di kediamannya, Minggu (18/4) kemarin, jumlah lahan kritis di Sumba Timur seluas 537.000 hektar.

Dari jumlah tersebut terdapat 25.533 hektar dalam kawasan hutan dan 248.960 hektar di lahan budidaya pertanian dan sisanya juga terindikasi mengalami kritis. Menurutnya, kecenderungan adanya penambahan jumlah lahan kritis di Sumba Timur disebabkan berbagai faktor seperti kebakaran hutan dan lahan, ilegal logging dan pengembangan ternak secara ekstensif (over harding).

“Kekeringan di musim kemarau, kebanjiran dan tanah longsor di musim hujan merupakan pemandangan yang terjadi dimana-mana. Tekanan terhadap keberadaan hutan dan lahan senantiasa berlangsung disebabkan oleh kebutuhan pembangunan bagi pendidikan dan ekonomi masyarakat. Sedangkan pada sisi lain, upaya-upaya pembangunan kehutanan dan pelestarian lingkungan melalui penghijauan dan reboisasi maupun sumber daya alam sangat dibatasi oleh kemampuan keuangan negara termasuk kemampuan APBD Sumba Timur,” tegasnya.

Toh begitu, mantan Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Setda Sumba Timur ini mengaku, sejak tahun 2005-2009 pihaknya telah melaksanakan berbagai kegiatan antara lain, pembagian anakan pohon sebanyak 1.700.000 pada masyarakat untuk ditanam.

“Untuk itu, saya atas nama Pemkab Sumba Timur menghimbau kepada seluruh komponen masyarakat untuk aktif berperan dan berpartisipasi melakukan kegiatan penghijauan dan rehabilitasi lahan secara swadaya sebagai upaya penyelamatan dan perbaikan kualitas hutan dan lingkungan hidup.

Program ini juga merupakan sebuah gerakan moral dan tanggungjawab sosial dalam rangka mengatasi perubahan iklim global sebagai bagian dari budaya masyarakat Sumba Timur juga sebagai perlibatan dari masyarakat yang beriman,” ingatnya.

Gidion mengingatkan, menanam pohon adalah investasi yang sangat menjanjikan bagi masa depan kehidupan dan pendidikan anak cucu warga Sumba Timur. Menurut Gidion, dalam rangka mensukseskan program satu miliar pohon di tahun 2010, pihaknya menyiapkan sebanyak 2 juta anakan pohon untuk dibagikan pada masyarakat.

“Untuk itu, saya kembali menghimbau pada seluruh anggota Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (Ipkindo) dan penyuluh pertanian di Sumba Timur harus berperan aktif di garda terdepan dalam proses konsentiasi masyarakat karena penyuluh dapat memainkan perannya yang strategis dalam upaya membangun dan mengembangkan peran serta partisipasi aktif masyarakat Matawai Amahu Pada Njara Hamu tercinta ini,” ujarnya.

Menurutnya, ancaman dan permasalahan lingkungan yang dihadapi manusia saat ini adalah pemanasan global dan perubahan iklim yang mendapat perhatian serius dari dunia internasional. Indonesia terangnya, memiliki peran penting dalam isu perubahan iklim global dengan menyediakan jasa lingkungan berupa penyerapan emisi karbon dari hutan tropis yang dimiliki.

Hutan di Indonesia yang luasnya 120,3 juta hektar sambungnya, diyakini mampu menyerap emisi karbon secara signifikan, namun demikian terjadinya deforestry dan degradasi hutan di Indonesia juga dianggap sebagai sumber emisi karbon karena melepas CO2 ke atmosfir.

“Dalam keadaan hutan yang baik, maka keberadaan hutan tersebut akan bermanfaat sebagai penyimpan dan penyerap emisi karbon atau gas rumah kaca (GRK).

Sebaliknya, pada kondisi hutan yang kurang baik karena mengalami deforestrasi dan degradasi justru menjadi sumber emisi karbon karena melepas CO2 ke atmosfir. Sebabnya, kita harus berupaya menjaga hutan yang kita miliki sehingga keutuhan ekosistem hutan dan lingkungan tetap terpelihara dan lestari. Untuk itulah, program menanam di Sumba Timur tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun,” tukasnya.

copyright by : Timex

1 komentar:

Anonim mengatakan...

setelah tambang di wanggameti mulai berjalan, kekeringan akan tambah parah diseluruh sumba timur.
kenapa juga bupati merekomendasikan pembukaan tambang ini? sudah ada gerakan menanam pohon di waingapu?

Poskan Komentar