GBY-MK AKUI KEMISKINAN, MARAING SOROTI PEJABAT

Written By Admin on Selasa, Mei 18, 2010 | Selasa, Mei 18, 2010

WAINGAPU - Lima pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati yang akan bertarung di Pemilukada Sumba Timur, 3 Juni mendatang, Gidion Mbilijora – Matius Kitu (GBY-MK), Lukas Mbadi Kaborang-Rambu Lika Atahumba (Luri), Emanuel Babu Eha-Umbu Hapu Mbeju (Maju), Langu Pindingara-Kabunang Rudyantohunga (Pinang) dan Umbu Manggana-Kristofel Praing (Maraing), Senin (17/5) kemarin, memaparkan visi-misi mereka dalam sidang paripurna DPRD Sumba Timur.

Selain visi-misi, sidang yang dipimpin langsung Ketua DPRD Sumba Timur Palulu P Ndima bersama dua Wakilnya Amos Manja Landupraing dan Markus Halang, dan dihadiri Plt Bupati Sumba Timur Umbu Hamakonda, Plt Ketua KPU Muhamad Wungo dan anggotanya, Panwaslu, pimpinan Dinas, Badan, Kantor, Unit-Unit Kerja dan tim sukses lima paket itu, juga menggandekan program yang akan dijalankan mereka bila terpilih di Pemilukada 3 Juni.


Pasangan GBY-MK yang mendapat kesempatan pertama mengakui masalah kemiskinan dan pengangguran yang masih mendera mayoritas warga di wilayah Sumba Timur. Menurut Gidion yang membacakan visi-misi paket tersebut, kemiskikanan dan pengangguran sangat kompleks karena berkaitan dengan berbagai aspek antara lain, pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang diibaratkan seperti lingkaran setan yang tak berujung pangkal.


Untuk itu dibutuhkan suatu kebijakan khusus guna menanganinya secara terpadu, terarah dari berbagai lintas pelaku dengan memanfaatkan semua potensi yang ada secara bertanggungjawab dan berkesinambungan.

Kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Sumba Timur papar mantan Asisten II Bidang Ekonomi-Pembangunan Setda Sumba Timur, ini, tak hanya berkaitan dengan kemampuan daya beli akan tetapi berkaitan erat dengan ketidakmampuan dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada dan dimiliki untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendasar seperti sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan.

“Salah satu penyebab kemiskinan adalah terbatasnya lapangan kerja yang tersedia terutama yang membutuhkan keahlian dan ketrampilan serta tingkat pendidikan tertentu. Pertumbuhan lapangan kerja yang tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja akan menimbulkan masalah pengangguran. Toh begitu, Gidion mengungkapkan adanya penurunan persentasi pengangguran terbuka pada tahun 2005 sesuai data statistik tahun sebesar 6,73 persen menurun menjadi 2,34 persen pada tahun 2008,” tegasnya.

Sementara Cawabup Umbu Manggana, Kristofel Praing (Maraing) yang mengusung motto; Mewujudkan Sumba Timur yang maju, demokratis, berkeadilan dan mandiri berbasis sumber daya lokal’, itu, ketika memaparkan visi-misi dan program paket Maraing, menyoroti soal penempatan pejabat birokrat Sumba Timur yang harus sesuai kapasitas dan kemampuan yang dimiliki pejabat dimaksud.

Menurut Kris, persoalan krusial yang masih dihadapi Kabupaten Sumba Timur dalam tata kelolah Pemerintahan adalah masih rendahnya kemampuan aparatur birokrasi ketika menterjemahkan kebijakan politis kedalam kebijakan tehnis administratif yakni program dan kegiatan yang memungkinkan pencapaian target terukur secara efisien dan efektif dalam kerangka akuntabilitas publik.

Hal ini ujar mantan Kepala Bapedalda Sumba Timur, itu, berkaitan dengan berbagai aspek antara lain, kualitas SDM aparatur itu sendiri yakni kemampuan konseptual dan tehnis yang ditentukan oleh pendidikan dan pelatihan yang diikuti serta penempatan yang tepat (the right man on the right place) disamping etos kerja aparatur dalam memberikan pelayanan baik internal maupun eksternal organisasi.

“Dengan kata lain, masih terjadi kesenjangan (gap) antara kemampuan aparatur mengelolah perubahan dengan dinamika perubahan lingkungan internal maupun eksternal dalam berbagai aspek. Lambannya pelayanan Pemerintah tehadap publik terutama berkaitan dengan pelayanan sosial dasar dan masih maraknya korupsi di daerah merupakan salah satu indikator bahwa tata kelolah Pemerintah yang baik belum terwujud di daerah ini.

Oleh karena itu, perhatian terhadap sistem administrasi dan manegemen aparatur yang memungkinkan birokrasi bekerja secara optimal demi kemaslahatan masyarakat adalah suatu keharusan. Untuk itulah, Sumba Timur membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas tapi juga memiliki komitmen yang tegas dalam menjamin keberpihakan pada rakyat yang dilaksanakan dengan santun sesuai akar budaya bangsa Indonesia yang hakiki, ” ingatnya.


Seperti Maraing, tiga paket lainnya, Luri, Maju dan Pinang juga menyoroti hal yang sama. Paket Pinang dalam visi-misi dan program yang dibacakan Langu Pindingara dan Kabunang Rudyantohunga secara bergantian misalnya, menyoal pemberlakuan Otonomi Daerah yang berimbas pada ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap Pemerintah Pusat.


Peningkatan APBD Sumba Timur tahun anggaran 2001 misalnya kata Langu yang pernah maju di Pemilukada Sumba Timur 2005 berpasangan dengan Refafih Gah, sebagian besarnya tersedot habis untuk belanja rutin. “Jika pada tahun anggaran 2000 alokasi belanja rutin hanya sebesar Rp 26,3 miliar, pada tahun 2001 angkanya meningkat lebih dari tiga kali lipat yakni sebesar Rp 84,5 miliar dan pada tahun 2004 sebesar Rp 117 miliar,” tukasnya.


[sumber : timor express]

2 komentar:

Anonim mengatakan...

salut buat semua kandidat.. semoga siapapun yang maju bisa melihat sumba dengan cara pandang yg berbeda sehingga muncul gagasan2 baru yang lebih kreatif dalam membangun daerah kita tercinta.. penekanan terhadap masalah pendidikan dan wawasan yg lebih terbuka sepertinya harus menjadi topik utama dalam pembangunan daerah sumba timur..
biarlah 'matawai amahu pada njara hammu' tetap menjadi semboyan yang sejalan dengan pemikiran para pemimpin.. maju sumba timur..! buat Indonesia dan dunia Internasional untuk mengakui budaya-mu, keunikan alam-mu dan orang-orangmu..

dari saya
anabumi

Anonim mengatakan...

MARAING ADALAH PAKET YANG TERBAIK BUAT RAKYAT SUMBA TIMUR....

Poskan Komentar