EMPAT IMIGRAN KABUR DARI PENAMPUNGAN

Written By Admin on Rabu, Juli 14, 2010 | Rabu, Juli 14, 2010


WAINGAPU - Empat imigran gelap yang ditampung di Polres Sumba Timur kabur dan belum ditemukan. Imigran itu kabur dengan melompat pagar. Diduga ada orang dalam ikut membantu kaburnya imigran tersebut.

Namun Wakapolres Sumba Timur, Kompol Anthon CH Nugroho, S.H, membantah keterlibatan anggotanya terhadap kaburnya empat imigran tersebut. Selama hampir dua pekan berada di Penampungan Mapolres Sumba Timur, sudah beberapa kali imigran kabur. Namun selalu berhasil ditangkap.

Pekan lalu, empat imigran kabur. Dan, Rabu (7/7/2010), empat orang imigran lagi kembali kabur, namun berhasil ditangkap aparat kepolisian. Sedangkan empat orang yang kabur pekan lalu belum ditemukan hingga imigran lainnya dipindahkan ke Kupang, Jumat (9/7/2010) malam.

Dugaan sementara empat imigran ini sembunyi di rumah penduduk. Karena itu, kepolisian minta masyarakat yang menampung imigran melaporkan ke Polres Sumtim. Dalam upaya melacak keberadaan empat imgran itu, polres setempat menyebarkan foto mereka ke tempat umum di Waingapu dan sekitarnya dengan harapan masyarakat yang menemukan atau melihat mereka melapor ke polres.

Imigran yang kabur itu merupakan empat dari 82 imigran asal Afganistan, Iran, Irak yang terdampar di Pulau Salura, Minggu (27/6/2010) lalu, ketika perahu yang mereka tumpangi menuju Australia bocor dan terbawa arus ke salah satu pulau terluar di Sumba Timur itu. Para imigran ini kemudian dijemput aparat kepolisian dan ditampung di Mapolres Sumba Timur.

Menurut informasi, para imigran itu kabur karena tidak ingin dipindahkan ke Kupang. Mereka hanya ingin dikembalikan ke penampungan UNHCR di Cisarua, Jawa Barat. Tidak jelas alasan mereka menolak kembali ke Kupang.

Imigran gelap yang ditangkap di Pulau Salura ini merupakan yang ketiga kalinya di Sumtim sejak tahun 2009 lalu. Sebagian besar imigran yang ditangkap di Pulau Salura merupakan imigran yang lari dari penampungan UNHCR di Cisarua.

Menurut para imigran, mereka nekat kabur dari penampungan UNHCR karena UNHCR tidak memberikan kejelasan tentang nasib mereka. Hasyim, salah satu imigran asal Afganistan mengatakan, UNHCR hanya mengatakan sepuluh tahun lagi baru mereka dikirim ke negara ketiga yang siap menampung mereka.

"Sekarang usia sudah 30 tahun lebih. Kalau sepuluh tahun lagi saya sudah kakek-kakek," kata Hasyim saat ditemui di penampungan Mapolres Sumtim beberapa hari lalu.
Dengan berulangkali imigran gelap terdampar di wilayah perairan Sumtim, Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si meminta pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap masalah tersebut.

Letak Sumba Timur sebagai daerah yang perairannya berbatasan dengan Australia menjadi target imigran menjadikan daerah ini sebagai daerah penyeberangan ke Australia. Diduga ada sindikat yang mengatur perjalanan imigran ini. Namun polisi sulit mengungkapnya karena keterbatasan bahasa.

[Sumber : Pos Kupang]

1 komentar:

Anonim mengatakan...

hati2 saja drang mw masuk n tinggal di sumba,,,

Poskan Komentar