KAMPUNG ADAT WUNGA DI SUMBA TIMUR TERBAKAR

Written By Admin on Minggu, Agustus 01, 2010 | Minggu, Agustus 01, 2010

WAINGAPU - Kampung Adat Wunga yang merupakan kampung pertama orang Sumba terbakar, Rabu (28/7/2010) pukul 12.00 Wita. Tujuh dari 12 rumah di kampung adat ini ludes dilalap api. Kerugian diperkirakan ratusan juta rupiah.

Juru bicara (Wunang) Kampung Adat Wunga, Nggay Mehang Tana (44), saat ditemui di Kampung Wunga, Kamis (29/7/2010), menyatakan api berasal dari salah satu rumah di kampung itu, yaitu rumah adat Marga Pahoka di barat kampung itu.

Api cepat merambat ke seluruh bangunan dan menyambar enam rumah adat di sekitarnya. Angin kencang serta atap dan dinding bangunan terbuat dari alang-alang membuat warga sulit menjinakkan api.

Letak Kampung Wunga yang berada di puncak bukit menyulitkan masuknya bantuan. Di kampung itu tidak ada persediaan air.

Tiga dari tujuh rumah yang terbakar merupakan rumah adat yang baru direhab dengan dana bantuan dari seorang peneliti Jepang bernama Makoto Makoiki (Umbu Haharu) yang pernah melakukan penelitian dan tinggal di kampung ini tahun 1983.

Api juga melalap bahan bangunan untuk Uma Ratu (rumah induk) yang baru dibeli dengan dana bantuan dari peneliti Jepang tersebut. Padahal Uma Ratu sesuai rencana akan dibangun tahun ini.

Mehang Tana mengatakan, sampai hari kedua, pihaknya belum mengetahui sumber api karena dalam rumah pertama yang terbakar tidak ada api di tungku maupun di tempat lain. "Penghuni rumah juga lumpuh. Posisi bagian bangunan yang terbakar berasal dari atap. Jadi kita sendiri bingung," kata Mehang Tana.

Ada Kesalahan Warga
Sesuai kepercayaan Marapu, aliran kepercayaan dari mayoritas warga di kampung itu, musibah terjadi karena ada kesalahan yang dilakukan warga di tempat itu. Penyebab musibah hanya diketahui penafsir Marapu (Puimowal) melalui ritual khusus. Ritual baru dilaksanakan Oktober mendatang.

Dalam ritual itu, katanya, Puimowal akan bermusyawarah dan bertanya kepada leluhur. Jawaban leluhur akan diketahui melalui hati ayam dan hati babi yang dikorbankan.

Mehang Tana mengatakan, jumlah rumah di kampung itu awalnya 23 unit sesuai jumlah marga orang Sumba pertama yang mendiami kampung itu. Namun setelah menyebarnya marga yang ada di kampung itu ke seluruh Sumba serta masuknya agama Kristen, keturunan beberapa marga tidak merawat dan memperbaiki rumah peninggalan nenek moyangnya.

Akibatnya, sampai saat ini yang tersisa hanya 12 rumah, uma ratu baru direncanakan dibangun kembali akhir tahun ini.

Tujuh rumah yang terbakar, yaitu rumah Marga Pahoka, Marga Monanga, Uma Bhakul, Marga Tula Praing, Marga Harkonda Day Kambata (Kalitu ahu), Marga Waimoru II dan Marga Rua. Sementara lima rumah yang tersisa yaitu rumah Marga Ana Ma'ari, rumah Marga Rumbu Wulang, rumah Marga Bohu, rumah Marga Matolang dan rumah Marga Harkondu Mau Mahu.

Sedangkan marga yang rumah adatnya sudah tidak ada lagi di kampung itu, yaitu Marga Ana Lingu, Marga Maketa Iyang Jangga, Maketa Iyang Wawa, Pahoka Majangga, Rua Hai, Waimoru I, Waijelu, Waspatonggulung dan Marga Kombul.

Mehang Tana mengungkapkan, rumah adat dari marga itu tidak lagi dibangun di kampung itu karena keturunannya mayoritas sudah masuk agama Kristen.

Meskipun demikian, setiap upacara adat yang digelar dua tahun sekali Oktober dan Juni bertepatan musim tanam dan musim panen, marga-marga yang tidak memiliki rumah adat di kampung itu tetap diundang.

Mehang Tana mengatakan, kebakaran yang terjadi Rabu siang merupakan yang kedua setelah tahun 1971. Berbagai benda purbakala peninggalan nenek moyang dari tujuh marga di tujuh rumah ikut terbakar. Benda itu selama ini dipakai dalam ritual adat Merapu di kampung itu. Kerugian diperkirakan ratusan juga.

"Biaya pembangunan satu unit rumah adat sekitar Rp 100 juta/unit. Belum termasuk perlengkapan ritual adat setiap rumah," jelasnya.

Benda-benda yang ikut terbakar:

1) Dari rumah Marga Kalitu Ahu: piring kuno 14 buah, parang marapu satu bilah, tombak marapu satu bilah, kawadak (logam berharga yang sudah diukir) emas 30 biji, perak 20 biji, mamuli emas satu buah.

2) Dari rumah marga Rua: Kawadak Perak 15 biji, Mamuli (perhiasan wanita Sumba, red.) satu buah.

3) Rumah Marga Waimoru: Mamuli emas dua buah, Halakululung (emas berbentuk ular, red.) satu batang, kain Raupatuala kuno (ikat kepala lelaki Sumba,red.) sepanjang 2,5 meter satu lembar dan uang Rp 1,3 juta.

4) Rumah Marga Pahoka: Mamuli Mas satu buah, mamuli perak tiga buah, lulu amah perak satu buah, piring kuno 14 buah, kawadak perak dan emas 75 biji, tombak kuno satu batang, para baru empat batang, periuk kuno empat buah, wua wudu (muti emas) 20 biji, gong kuno dari Umaratu yang disimpang di rumah itu enam buah.

5) Uma bhakul: mamuli emas satu buah, mamuli perak satu buah, kawadak 45 lembar, tempayan tanah dua, halakululung satu batang.

6) Rumah Marga Tulapraing: Mamuli emas dua buah, periuk kuno delapan buah, kumbang tanah satu unit, mamuli perak dua buah, tempayan dua buah, Kawadak perak 48 biji, kawadak emas 56 biji, wua wudu 12 buah.

7) Rumah Marga Monanga: kawadak perak dan emas 54 batang, mamuli perak satu, mamuli emas satu.
*Sumber: Sekretaris Desa Wunga, Huki Nggimuwali

[Sumber : Pos Kupang]

0 komentar:

Poskan Komentar