9500 WISATAWAN KUNJUNGI SUMBA TIMUR

Written By Admin on Senin, Januari 10, 2011 | Senin, Januari 10, 2011

WAINGAPU - Tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) ke Sumba Timur meningkat sekitar 3.000 orang dari 6.930 orang di tahun 2009 menjadi 9.500 orang pada tahun 2010. Peningkatan kunjungan wisatawan ini terjadi seiring dengan berbagai even wisata yang diselenggarakan di daerah ini.

Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Sumba Timur, Drs. Domu Warandoy yang ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/1/2011), menjelaskan, peningkatan kunjungan ke kabupaten ini cukup signifikan pada wisatawan lokal.

Jika tahun 2009, kata Domu, kunjungan wisatawan lokal ke Sumba Timur hanya 5.700 orang, namun pada tahun 2010 meningkat menjadi 8.000 orang. Sedangkan wisatawan mancanegara meningkat dari 1.230 pada tahun 2009 menjadi 1.500 orang pada tahun 2010.

Untuk mempertahankan kondisi ini, kata Domu, tahun 2011 pihaknya akan memperbanyak kegiatan atraksi budaya dan menyusun jadwal kegiatan atraksi budaya di Sumba Timur secara baku sehingga memudahkan wisatawan untuk merencanakan kunjungan ke daerah ini.

Selama ini, kata Domu, jadwal tetap berbagai atraksi budaya di Sumba Timur belum ada sehingga menyulitkan wisatawan terutama wisatawan mancanegara untuk menjadikan Sumba Timur sebagai daerah tujuan perjalanan wisata.

"Kita belum menetapkan jadwal atraksi budaya secara baku. Namun tahun ini kita upayakan jadwal tersebut sudah bisa disusun. Seperti bulan Juli dan Agustus ada pagelaran dan festival budaya se-Daratan Sumba di Waingapu. Rencananya akan dibuka bersama dengan even Pasar Rakyat," kata Domu.

Ia mengungkapkan, festival budaya tersebut akan dilanjutkan dengan Jambore Pariwisata Tingkat Propinsi NTT di Kota Waingapu pada bulan September. Sementara bulan Agustus, ada Sale Indonesia.

Rangkaian kegiatan kepariwisataan ini akan didahului dengan upacara repit yaitu upacara menurunkan kain yang usianya 40 tahun dari rumah adat di Desa Lailara.
"Menurut kepercayaan masyarakat asli Sumba, kain itu mampu memberikan tanda-tanda zaman seperti bencana atau kemakmuran. Masih pada bulan Maret, ada upacara Karaki Nyali. Upacara ini mirip dengan perburuan Paus di Lamalera yaitu perburuan ikan secara tradisional dengan tombak. Kegiatan kepariwisataan di Sumba Timur tahun 2011 akan ditutup dengan Lomba Mancing Nasional bulan Oktober setelah dua tahun kegiatan ini vakum karena berbagai kendala," jelasnya.


Sementara itu, untuk mendukung kepariwisataan di Sumba Timur, ia mengaku telah dibentuk Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Sumba Timur yang diketuai pengusaha rumah makan di Kota Waingapu, Sarman.

Kontribusi Hotel dan Restauran termasuk salon dan tempat-tempat hiburan akan diatur dalam peraturan daerah yang telah disahkan DPRD Sumba Timur dalam sidang paripurna di akhir tahun 2010 lalu.

Pada saat bersamaan, museum yang selama ini dikelola Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah raga (PPO), diambil alih Dinas Pariwisata. Dinas Pariwasata akan menata kembali museum tersebut dengan berbagai benda cagar budaya sehingga bisa berfungsi sebagai salah satu obyek pariwisata untuk menarik wisatawan ke Sumba Timur. Pihaknya juga, akan memisahkan perpusatakaan dengan museum yang selama ini berada di dalam satu gedung.

[Sumber : Pos Kupang]

0 komentar:

Poskan Komentar