Buah Diabadikan, Pahlawan Dilupakan

Written By Admin on Senin, Februari 16, 2009 | Senin, Februari 16, 2009

WAINGAPU, Pemkab dan DPRD Sumba Timur dinilai kurang memperhatikan nama tokoh dan pahlawan lokal Sumba untuk diakomodir dan diabadikan sebagai nama tempat atau jalan di wilayah tersebut.

Bernardus Mbatang, warga kelurahan Kawangu kecamatan Pandawai kemada Timex Minggu (15/2) mengatakan banyak nama pahlawan Sumba yang pantas dan layak diabadikan sebagai nama tempat dan jalan misalnya, raja Mbatakapidu yang juga pendiri Kota Waingapu, Umbu Ndai Liti Ata juga Syarief Abdurahman Al Qadrie.

"Sampai hari ini, belum ada nama tempat atau jalan yang mengabadikan nama
Umbu Nday Liti Ata dan Syarief Abdurahman Al Qadrie. Padahal dalam sejarah Sumba, Umbu Nday Liti Ata adalah penentang penjajah Belanda yang ditandai dengan perang Mbatakapidu yang dikenal heroik itu. Bersama sahabatnya Syarief Abdurahman Al Qadrie mereka juga mendirikan Kota Waingapu," tegasnya.

Dikatakan, di sejumlah jalan di Kota Waingapu justeru lebih banyak mengabadikan nama buah dan binatang laut ketimbang nama pahlawan dan tokoh Sumba.
"Sudah saatnya Pemkab Sumba Timur bersama DPRD dibawah kepemimpinan Gidion Mbilijora dan Palulu Pabundu Ndima memperhatikan hal ini.

Sesuai pengamatan kami di lapangan selama ini, baru nama Oemboe Hina Kapita yang diabadikan sebagai nama museum pendidikan, Umbu Haramburu Kapita nama dermaga Waingapu, Umbu Mehang Kunda nama bandar udara, Umbu Rara Meha nama RSUD, Umbu Tipuk Marisi nama gedung pertemuan, Umbu Remu dan Umbu Mara Hongu sebagai nama jalan,"ujarnya.

Hal senada diungkapkan Soleman Umbu Hina, warga kelurahan Mauliru kecamatan Kambera. Menurutnya, mengabadikan nama tokoh dan pahlawan lokal Sumba sebagai nama tempat dan jalan merupakan bentuk penghargaan pada jasa dan pengabdian tokoh dimaksud.

"Kan ada kriterianya mengabadikan nama tokoh atau pahlawan Sumba sebagai nama tempat dan jalan seperti mantan Bupati Umbu Mehang Kunda dan Umbu Haramburu Kapita. Yang jadi pertanyaan, apa kriterianya bila mengabadikan nama buah dan binatang laut pada sebuah tempat atau jalan seperti nama jalan di kelurahan Matawai dan Kambajawa itu," ujarnya.
Untuk itu demikian Soleman, pemerintah dan DPRD harus memikirkan hal itu untuk segera diakomodir. Timex-

4 komentar:

Devon Yurial mengatakan...

setuju...saya bukan orang Sumba,tapi saya punya banyak teman anak Sumba...dan saya juga peduli dalam hal ini...saya rasa, bukan hanya di Sumba saja, tetapi di semua tempat/kota di Indonesia, harus mengabadikan pahlawan lokal, salah satunya, nama mereka dijadikan nama jalan...to Jonathan, good posting...

Anonim mengatakan...

memang seperti itulah yang terjadi
jaman sekarang arti dari kata pahlawan sudah bergeser dari hakekat sebenarnnya, sehingga tidak ada lagi penghargaan untuk pahlawan.

Anonim mengatakan...

memang seperti itulah yang terjadi
jaman sekarang arti dari kata pahlawan sudah bergeser dari hakekat sebenarnnya, sehingga tidak ada lagi penghargaan untuk pahlawan.

Sumba in Frame mengatakan...

salam...
natan...

ya q koment aja nich :
q stuju banget dengan artikel yang membahas nama pahlawan tersebut...
namun dalam artikel tuch...
tidak dijelaskan yang menjadi narasumbernya siapa? dalam arti jabatan atau alasan kenapa dipilih menjadi nara sumber...

ya walau artikel nich hany dalam blog...


kalo menurut ku, q soal nama pahlawan tidak di abadikan sebagai nama jalan karena mungkin pemerintah daerah Sumba punya kategorisasi memberi nama pahlawan atau tokoh..

seperti di jabarkan dalam artikel kalo nama-nama pahlawan atau tokoh di pakai pada tempat-tempat yang manfaatnya besar...

ya munkin nama2 pahlawanyang belum di pakai,karena belum ada gedung atau fasilitas untuk umum yang dapat dikai nama pahlawan.

kan kalo di kasih di tempat sperti tu , lebih berkelas,dari pada jadi nama jalan....

ya kali aja pertimbangan dari para pertinggi di gedung2 besar di radamata gt....

ok...

teruskan artikel2 yang tambah .......
hangat..
dan update....

Poskan Komentar