DARI SUMBA AWAL PROSES GURUN DI NTT

Written By Admin on Sabtu, Maret 21, 2009 | Sabtu, Maret 21, 2009

KOLAM AIRNONA — Kolam Airnona yang selalu penuh dengan air pada musim hujan menjadi fasilitas mandi dan cuci yang menyenangkan bagi warga sekitar. Namun kelestarian kolam ini patut dijaga agar kolam ini tidak menjadi cerita masa lalu bagi warga Kota Kupang yang hidup 50 tahun mendatang.

PERMUKAAN air kolam Airnona tenang pada Rabu (25/2/2009) sore. Hanya nampak beberapa warga sekitar yang duduk-duduk disekitar kolam selus empat kali lapangan voly tersebut. Beberapa pemuda memanfaatkan air itu untuk mencuci sepeda motor.

Beberapa jam sebelumnya, di kolam ini ramai anak-anak berenang dan menikmati dinginnya air di Kelurahan Airnona-Kecamatan Oebobo, Kota Kupang ini. Setiap hari, kolam ini bukan saja menjadi kebanggaan warga sekitar, tetapi juga menjadi tempat mandi, cuci dan kebutuhan lainnya oleh warga yang tinggal di tempat itu.

Di Kota Kupang banyak tempat yang hampir serupa dimana muncul mata air dan kemudian menjadi sumber air. Sebut saja di kolam Oeba, sumber air Oepura dan Sikumana serta beberapa titik sumber air. Bila di lihat lebih luas lagi di NTT, banyak tempat-tempat serupa. Pada umumnya sumber air menjadi urat nadi kehidupan warga sekitar bukan saja sebagai sumber air bersih untuk air minum maupun cuci, tetapi juga untuk perhatian.

Sumber air di NTT yang tersebar di seluruh wilayah NTT telah membentuk beberapa sungai dan selanjutnya mengairi lahan-lahan pertanian, memenuhi kolam-kolam tambak ikan bahkan menjadi sumber air bersih untuk wilayah lain. Sumber air tersebut tidak terlepas dari kehadiran hutan-hutan yang yang berada di hulu sungai. Peran hutan-hutan jelas yaitu mencegah erosi yang menyimpan sumber air hujan.

Cerita NTT yang memiliki kolam, danau dan sungai meski tidak sebesar di Pulau Sumatera, Kalimantan atau Jawa, bisa saja hanya menjadi kisah manis pada 50 tahun mendatang. Sebab, sadar atau tidak sadar, hutan-hutan di NTT telah rusak, baik oleh alam maupun oleh perbuatan manusia.

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Ir.Frans Umbu Datta, M.App, Sc, Ph.D, saat bertemu Menteri Kehutanan, MS.Ka’ban, di Kampus Undana belum lama ini mengatakan, luas tutupan hutan di NTT hanya sekitar lima persen saja. Jumlah itu juga berangsur berkurang.

Proses Jadi Gurun

Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) NTT, Dr. Michael Riwu-Kaho, yang ditemui di sela seminar Forum Das NTT dan Tim Forum Das Kabupaten Aceh Jaya, Propinsi Nangroe Aceh Darusalam di Hotel Silvia-Kupang, Sabtu (14/2/2009) menyebutkan, proses pembentukan gurun di NTT kini sedang berlangsung. Sadar atau tidak, bahkan cikal bakal gurun di NTT sudah mulai berlangsung. Ia menyebutkan, kawasan Wairinding di Kabupaten Sumba Timur sudah menunjukan tanda-tanda proses menjadi gurun. “Saya merasa sangat ngeri saat berada di Wairinding, karena disana sangat panas dan kering. Itu merupakan tanda-tanda terjadi gurun di wilaya itu,” ujarnya.
Ia menyebutkan, di kawasan itu kini sudah hidup sejenis rumput anual yaitu fimbristilys cymosa. Rumput ini biasanya hanya hidup di gurun pasir, sehingga bila rumput jenis ini sudah ada di Wairinding berarti proses penggurunan sudah dimulai di tempat itu. “Saya merasa ngeri sekali dengan situasi di sana, kalau ini tidak diantisipasi sejak sejak sekakarang maka gurun akan terjadi di wilayah ini dalam 40 tahun mendatang,” jelasnya.
Luas hutan di NTT saat ini sekitar 600 ribu hektar dan tingkat rata-rata kerusakan hutan (deforestasi) NTT adalah 15 ribu hektar per tahun. Sedangkan kemampuan pemerintah merehabalitasi hutan hanya sekitar tiga ribu hektar pertahun, serta sisanya dari masyarakat dengan asumsi semua pohon yang ditanam tumbu menjadi besar. Jadi pertambahan lahan yang rusak di NTT sekitar 12 ribu hektar pertahun. “Itupun kalau pohon yang ditanam dalam program perbakan lahan itu berjalan baik, kalau pohon-pohon yang ditanam itu mati, terbakar atau di makan ternak berarti semakin luas kerusakan hutan jelasnya,” jelasnya.

Dengan perhitungan tersebut maka dalam waktu 40 tahun, hutan di NTT bakal habis. Dan, gurun pasir pun mulai terjadi di hampir semua wilayah di NTT.
Menurut Riwu Kaho, berdasarkan Citra Landsat Propinsi NTT, Tahun 2003 komposisi kualitas lahan di NTT adalah 98.127 ha (20,85 persen) sangat kritis, 2.255.462 ha (47,63) kritis, 1.184.665 ha (25,02 persen) agak kritis, 288.064 (5,96 persen) potensial kritis dan 23.994 ha (0,51 persen) tidak kritis. Ini menunjukan NTT sangat memungkinkan menjadi daerah gurun.Sumba merupakan cikal bakal gurun di NTT, namun potensi itu bisa dengan cepat meluas dan merata ke seluruh wilayah NTT.
Bila gurun benar terjadi di bumi Flobamora maka masyarakat wilayah ini harus siap untuk mengalami hidup dengan kondisi alam yang sangat keras seperti tinggal di wilayah yang amat tandus dengan cura hujan rata-rata kurang dai 25 cm pertahun serta turun tidak teratur dan tidak pernah lebat, sinar matahari sangat terik bahkan bisa mencapai 40 derajat cercius dan perbedaan suhu siang dan malan sangat tinggi.

Antisipasi

Bila tidak ada antisipasi maka lahan kritis di NTT akan menjadi lahan lebih kritis, lahan yang agak kritis menjadi kritis dan lahan yang potensial kritis menjadi agak kritis bahkan lahan yang tidak kritis masuk dalam lahan yang berpotensi kritis. “Sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi menjadi hamparan gurun, apabila kebiasaan menebas hutan, membakar semak-belukar, dan berkebun perpindah-pindah tidak dapat dikurangi. Tiga daerah berpotensi gurun di Indonesia adalah NTB, NTT dan Sulawesi Tengah,” jelasnya.

Langka-langka serius dengan menam pohon, mencitpakan cinta lingkungan di kalangan anak-anak merupakan langka yang harus di galakan. Sebab, hanya dengan menanam pohon saja bumi NTT bisa diselamatkan. Upaya-upaya pembakalan liar pun harus berantas habis.

Bila tidak, NTT akan masuk dalam fase baru kehidupan yakni hidup dalam alam gurun. Di alam gurun, hampir pasti air menjadi barang yang sangat langka. Sesama warga bisa saling membunuh hanya untuk sumber air yang sangat minim, pertanian dan pertenakan akan dengan sendirinya menjadi hal mustahil di kembangkan dan selanjutnya wabah penyakit dan kelaparan akan terjadi dimana-mana.

Air yang berlimpa seperti halnya kolam Air Nona, sungai-sungai dan hutan-hutan hanya akan menjadi cerita masa lalu tentang kejayaan NTT.

Fonema ini sudah terjadi di Afrika dimana kekeringan dan kelaparan terjadi sepanjang tahun dan selanjutnya memicu perang hanya untuk memperebutkan makanan.

Agar NTT tidak seperti beberapa negara Afrika yang kerap mengalami kelaparan, maka kebiasaan menanam pohon harus dilakukan sejak sekarang. Upaya-upaya serius melindungi hutan dan isinya harus dilakukan sejak kini demikian juga sosialisasi bahaya gurun tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar