Dimakamkan di TMP Dharmaloka

Written By Admin on Senin, April 27, 2009 | Senin, April 27, 2009

KUPANG - Mantan Gubernur NTT dua periode (1998-2003 dan 2003-2008), Piet Alexander Tallo yang menghembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta pada Sabtu (25/4) sekitar pukul 20.23 WIB, siang kemarin (26/4) tiba di Kupang.

Jenazah mantan orang nomor satu NTT ini diterbangkan dari Jakarta menggunakan pesawat Mandala Airlines, mendarat mulus di Bandara El Tari Kupang sekitar pukul 12.15 wita. Ikut dalam pesawat, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, istri almarhum Piet A. Tallo, Ny. Ernie Ch. Tallo, putri bungsunya Vera Tallo serta sejumlah keluarga.

Sedangkan ratusan pejabat dan tokoh masyarakat NTT, nampak menyambut jenazah di bandara. Diantaranya Wakil Gubernur, Esthon L. Foenay, mantan Gubernur Herman Musakabe, Danrem 161/WS Kol. Inf. Pardamean Simanjuntak, Ketua DPRD NTT, Mell Adoe, Sekda NTT Jamin Habid, Walikota Daniel Adoe, Asisten I Setda NTT, Yoseph A Mamulak, Wakil Walikota Daniel Hurek, Kepala Bappeda NTT Benny Ndoenboey, Piet Djami Rebo, Daniel Polin, serta ratusan pejabat dan tokoh NTT lainnya.

Air mata menetes dari sudut mata Ny. Ernie Tallo ketika menyalami satu persatu pejabat dan tokoh yang berjejer di bawah tangga pesawat. Semuanya larut dalam kesedihan tatkala tangan disalami, sambil ucapan lirih terima kasih diucapkan Ny. Ernie Tallo. Tak sempat menahan kesedihan, mereka pun ikut menitikkan air mata.

Dari tangga pesawat, keluarga dan rombongan penjemput beristirahat sebentar di ruang VIP bandara, sambil menanti diturunkannya peti jenazah dari perut pesawat. Satu jam berselang, proses itupun berakhir manakala dua unit mobil yang memuat pasukan Satpol PP Pemprov NTT sebagai pasukan pengusung peti jenazah dengan satu unit mobil jenazah, mendekati lambung pesawat. Prosesi ini berlangsung sekitar 20 menit, kemudian sirene pun nyaring terdengar.

Suasana duka, haru berbaur menjadi satu tatkala iring-iringan itu pun bergerak menuju ke rumah duka di Jl Amabi Kelurahan Oebufu. Iring-iringan mobil mengikuti mobil jenazah mencapai ratusan kendaraan baik itu kendaraan roda dua maupun empat.

Sekitar pukul 13.15 Wita, jenazah almarhum Piet A. Tallo, tiba di rumah duka. Peti jenazah yang diusung sejumlah anggota Sat Pol PP Pemprov NTT dibawa ke ruang tamu dan diletakkan di atas sebuah tempat tidur yang sudah dihiasi rapih dengan kain putih kombinasi tenun ikat khas Sabu plus sejumlah kembang yang menghiasi ruang persemayaman tersebut.

Setelah peti jenazah diletakkan, dilakukan doa singkat yang dipimpin Ketua Majelis Jemaat GMIT Maranatha Oebufu, Pdt. Jack Karmani. Setelah itu, putri bungsi almarhum, Vera Tallo membuka tutup peti dan seluruh pelayat yang sudah antri diijinkan melayat mantan pemimpin mereka.

Sementara itu, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya yang ikut ke rumah duka kepada wartawan mengungkapkan bahwa NTT berkabung. NTT menurutnya, kehilangan seorang tokoh besar sepanjang sejarah terbentuknya provinsi ini.

"Kita sangat kehilangan. Kehilangan sosok pemimpin yang memiliki visi jernih tentang sebuah NTT yang bermartabat. Banyak yang sudah beliau lakukan, diantaranya meletakkan dasar-dasar konsep pemikiran tentang pembangunan NTT. Beliau itu orangnya moderat, birokrat yang patut ditiru dan digugu banyak orang. Dan, almarhum layak jadi panutan," tegas Frans Lebu Raya.

Sebagai tanda berkabung, ia menginstruksikan kepada seluruh daerah untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari. Pengibaran bendera di seluruh instansi pemerintah itu dimulai Senin hari ini hingga Rabu (29/4) lusa.

"Memang secara aturan, ada syarat (pengibaran bendera setengah tiang, Red). Namun saya sudah siapkan untuk dikibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari terhitung Senin besok (hari ini, red)," ujarnya.

Ketika diajak lebih jauh berdiskusi mengenai profil seorang Piet Tallo di matanya, Frans menegaskan Piet Tallo adalah seorang pemimpin besar. "Ada pesan terakhir yang beliau sampaikan pada saya. Saat itu beliau mengatakan, Frans, tolong jaga daerah ini dan jaga kebersamaan. Saat itu saya tidak berfirasat apa-apa,"urai Frans yang kemudian berhenti sebentar. Nampak dua butir air mata hadir di sudut matanya, lalu disekanya dengan sehelai sapu tangan berwarna biru tua.

Diakuinya selama lima tahun menjabat sebagai Gubernur, dan dia sebagai Wakil Gubernur, banyak hal yang dipelajari dari sosok seorang Piet Tallo. Yakni kebersamaannya. Kadang ketika ada waktu luang, menurut Frans, almarhum menyempatkan diri untuk datang ke ruang kerja Wagub.

"Dan, di sana beliau memimpin doa. Kami berdua sendiri dalam ruangan, kamipun berdoa. Saya banyak belajar dari beliau, banyak filosofi yang tak saya temukan dimana-mana, hanya pada beliau. Ini yang membuat saya bangga telah mengenal, dan dekat dengannya," kenang Frans.

Menurut Frans, ada dua hal yang membuatnya menjadikan sosok Piet Tallo sebagai panutannya, yakni almarhum sudah dianggap sebagai ayah kandungnya, dan juga sebagai seorang gubernur.

Sehingga ketika ada hal yang tak terselesaikan, Frans memilih berdiskusi sebagai seorang anakyang butuh bimbingan. Ia lebih menempatkan diri sebagai seorang anak, yang butuh banyak waktu untuk belajar.

Ia mengenal sosok almarhum ketika masih menjabat sebagai Bupati TTS. Saat itu, kata Frans Lebu Raya, ia sementara menjadi sebagai Ketua GMNI Kupang. Ketika bertemu di Sonaf Haumeni-SoE, ada satu pesan yang tak pernah ia lupakan, walau sudah puluhan tahun.

"Beliau berpesan kepada saya, saat itu hanya kami berdua dalam sebuah ruang. Almarhum berpesan, Frans, kalau kamu mau menjadi pemimpin yang berhasil maka kami harus keluar dari batu. Pesan ini tergiang di telinga saya, hingga terjawab pada lima tahun lalu, saya berpasangan dengan almarhum sebagai Wakil Gubernur," tutur Frans.

"NTT kehilangan seorang pemimpin yang luar biasa. Tidak ada yang menandinginya. Banyak yang sudah dibuat untuk NTT, selama puluhan tahun beliau melayani untuk banyak orang, tanpa kenal lelah," tegas Walikota Kupang Daniel Adoe, di rumah duka.

Figur seorang Piet Tallo menurutnya, adalah figur kebapakan, yang tak pernah memandang orang dan melayani berdasarkan suku, ras maupun agama dan golongan. Karena itu layak jika disebut sebagai seorang negarawan.

"Jarang kita temukan pemimpin seperti ini. Dimanapun kita takkan menemukan orang yang bisa menandingi beliau," ungkapnya lagi. Mantan Gubernur NTT (1993-1998), Herman Musakabe di rumah duka mengatakan hal yang sama. Menurutnya, sosok Piet Tallo merupakan sosok yang brilian dan cocok diajak bekerjasama. Karena itu, ketika dirinya dan almarhum berduat memimpin NTT tahun 1993-1998, roda pemerintahan mampu dijalankan secara baik.

"Saya dengan almarhum (Piet Tallo, Red) selama memimpin NTT dapat bekerjasama dengan baik. Almarhum yang adalah seorang birokrat, dan saya yang berlatar belakang TNI, kami padukan dan saling mengisi. Saya juga sudah mengenal almarhum sejak masih menjadi anggota TNI. Karena itu, ketika kami berdua mendapat kesempatan memimpin rakyat, semuanya dapat dijalankan secara baik," ungkap Herman Musakabe.

Wakil Gubernur NTT, Esthon L. Foenay pun berpendapat sama. Sosok yang dulu dikenal sebagai anak emas Piet Tallo itu mengatakan, NTT kehilangan tokoh yang penuh kharisma, baik dalam kepemerintahan maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

"Saya mengenal betul sosok almarhum. Beliau dikenal sebagai tokoh yang merakyat dan sangat familiar dengan siapa saja. Dan selama mengenal beliau, ada banyak pelajaran dan ilmu yang saya dapatkan," ungkap Esthon.

Ketika ditanyai apa saja kesan atau pelajaran yang dia dapat, Esthon mengatakan, Piet Tallo yang merupakan sosok yang bersahaja mengajarinya agar pandai membangun relasi yang baik dengan sesama, membangun kebersamaan, kekeluargaan, dan yang paling sulit dilupakan adalah ajarannya soal kearifan lokal.

"Almarhum mengajari kita agar selalu membangun kebersamaan dan kekeluargaan. Karena itu, saya memohon kepada seluruh masyarakat NTT agar mendoakan beliau, dan hal-hal yang tidak berkenan selama beliau hidup supaya dikubur dalam-dalam," pinta Esthon.

Dimakamkan di TMP Dharmaloka

Sementara itu, kemarin langsung digelar pertemuan keluarga dan Pemprov NTT untuk membahas jadwal dan tempat pemakaman almarhum. Dari Pemprov NTT hadir Gubernur, Frans Lebu Raya, Wagub Esthon Foenay, Sekda NTT, Jamin Habid, Kadinkes NTT, Stef Bria Seran dan Karo Umum, Bruno Kupok.

Dari keluarga hadir istri almarhum, Ny. Ernie Tallo, adik kandung almarhum Chris Tallo dan Nim Tallo serta putri bungsu, Vera Tallo. Dalam pertemuan itu, Gubernur NTT meminta pihak keluarga agar menyerahkan seluruh proses pemakaman kepada pemerintah. Dan saat itu disepakati bahwa lokasi pemakaman mantan pemimpin NTT ini bertempat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Dharmaloka Kupang, pada Rabu (29/4) nanti.

Usai pertemuan keluarga, kepada Timex, Gubernur Frans Lebu Raya mengatakan, alasan menetapkan TMP Dharmaloka sebagai tempat peristirahatan Piet Tallo karena almarhum adalah tokoh yang sangat berjasa bagi pembangunan NTT. "Saya mohon ijin keluarga agar kami memakamkan almarhum di TMP Dharmaloka. Alasannya karena almarhum adalah tokoh pembangunan di NTT," pungkas Frans Lebu Raya. *Timex*

0 komentar:

Poskan Komentar