WARGA WAINGAPU KESULITAN AIR BERSIH

Written By Admin on Selasa, April 21, 2009 | Selasa, April 21, 2009

WAINGAPU - Warga Kota Waingapu, di wilayah Payeti hingga Padadita, Kelurahan Prailiu dan sebagian warga Kampung Arab, selama beberapa hari terakhir kesulitan air bersih. Macetnya suplai air bersih PDAM ke wilayah ini akibat pecahnya pipa induk ukuran 8 dim dari Jurusan Mbatakapidu atau sekitar tiga kilometer dari bak penampung di Mata Air Mbatakapidu.

Kondisi ini membuat warga terpaksa membeli air mineral untuk kebutuhan masak dan mandi. Ada juga yang membeli air tanki dengan harga melambung. Untuk mencuci, warga sekitar lokasi ini terpaksa mencari sungai atau sumber air terdekat.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PDAM Sumba Timur, Umbu Nday yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/4/2009), mengatakan, sejak sabtu pekan lalu pihaknya sudah mengerahkan petugas teknis untuk melakukan perbaikan jaringan yang pecah dan sudah selesai diganti.
Namun persoalan berikutnya, jelas Umbu Nday, jaringan pipa yang mensuplai air ke pemukiman penduduk sepanjang 300 mil kemasukan udara sehingga air tidak bisa dialirkan. Untuk itu, petugas harus mengeluarkan udara dalam pipa.

"Kalau kita tidak keluarkan udara dari pipa maka air tidak bisa mengalir. Kita upayakan secepatnya distribusi air ke lokasi itu bisa normal kembali," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, daerah yang tidak terkena dampak pecahnya pipa, yakni Kantor Daerah Sumba Timur atau sepanjang Jalan Soeharto karena suplai air di lokasi tersebut diambil dari mata air di Km 10.

Umbu Nday juga mengaku menjelang musim kemarau debit air di sumber mata air menurun. "Rata-rata penurunan debit air pada musim kemarau di Sumba Timur 30 persen dari rata-rata produksi 2.956.500 m3/ tahun," jelasnya.
Tarif Air Rendah

Dia juga mengatakan bahwa tarif air PDAM di Sumba Timur masih sangat rendah. "Tarif dasar PDAM kita terendah di NTT. Tarif dasar untuk rumah tangga masih Rp 400,00/m3. Baru tahun 2008 ada perbaikan dan membagi dalam tiga kelompok tapi perubahannya hanya sedikit. Pelanggan kelompok A tarif dasar Rp 400,00/ m3, kelompok B Rp 600,00/ m3 dan kelompok C Rp 800,00/ m3. Kita tidak bisa naikan tarff lebih dari itu karena angka itu yang ditetapkan pemerintah dan DPRD," jelasnya.

Dia mengungkapkan, harga jual air PDAM ke pelanggan jauh lebih rendah dari biaya produksi. "Rata-rata harga jual air ke masyarakat pelanggan Rp 986,68/m3. Sedangkan biaya produksi Rp 1.512/ m3," ungkapnya.

Harga jual jauh di bawah biaya produksii, terang Umbu Nday, mengakibatkan kerugian PDAM mencapai ratusan juta rupiah setiap tahun. Pada tahun 2007 PDAM Sumtim menderita kerugian Rp 820.334.292 dan tahun 2008 Rp 646.419.825.

Bupati Sumtim, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, juga mengakui usia jaringan perpiaan yang ada di wilayah ini sudah tua dan berdampak kepada suplai air kepada masyarakat. Namun tentang kerugian PDAM, kata Gidion, tidak semata-mata karena tarif murah dan gangguan jaringan, tapi juga karena manajemen pengelolaan keuangan di PDAM yang kurang efisien.

1 komentar:

Ardhan mengatakan...

Kasihan juga kota kita Waingapu, dengan simbol MATAWAI AMAHU PADA NJARA HAMMU....

Poskan Komentar