KERACUNAN JAGUNG, SATU ANAK TEWAS, DUA DIRAWAT

Written By Admin on Kamis, Maret 25, 2010 | Kamis, Maret 25, 2010

WAINGAPU - Obet Tamu Ama, bocah berusia enam tahun tewas setelah makan jagung goreng bersama kedua kakaknya. Kedua kakaknya, Yuliana Yohanes (10), dan Jena Jola (12), berhasil diselamatkan setelah mendapat perawat dari Puskesmas Melolo, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim). Ketiganya diduga keracunan jagung goreng.

Peristiwa itu terjadi Selasa (23/3/2010) pukul 24.00 Wita di kediaman para korban di Tilu Kadu, Desa Matawai Atu, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur.

Orangtua korban, Yiwa Hai (45) dan Langu Nani (38), yang ditemui di kediamannya, Rabu (24/3/2010) siang, mengatakan, ketiga anaknya itu muntah-muntah setelah makan jagung goreng. Ketiga korban kemudian dilarikan ke Puskesmas. Namun, hanya dua anaknya yang berhasil diselamatkan. Sedangkan salah satu putranya, Obet Tamu Ama, tidak tertolong meski sempat dilarikan ke puskesmas. "Kejadiannya begitu cepat. Satu jam setelah makan jagung, mereka langsung muntah-muntah," tutur Yiwa Hai.

Yiwa mengatakan, jagung yang dimakan korban dibawanya dari gunung. Jagung itu merupakan imbalan dari hasilnya menjual suara. Yiwa yang berprofesi sebagai penyanyi lagu-lagu daerah Sumba itu, selama ini menjual suaranya ke kampung-kampung untuk mendapatkan makanan bagi keluarganya.

Yiwa mengungkapkan, Obet adalah anak kelima dari enam bersaudara, dan putra pertama dari dua putranya. "Saya tidak kuat melihat kondisi anak saya. Saya kerja keras mencari makan untuk mereka. Tetapi, hasilnya seperti ini," kata Yiwa, berlinang air mata.

Yiwa mengaku bingung mengapa putra putrinya keracunan setelah makan jagung.
Padahal jagung tersebut, kata Yiwa, masih utuh dengan tonkolnya. Adakah kemungkinan jagung itu, jagung benih yang telah tercampur zat kimia? Yiwa mengatakan, kalau jagung benih tidak lagi dalam bentuk tongkol.

Yiwa mengungkapkan, selama ini mereka masih bertahan dengan beras murah atau raskin. Namun setelah raskin habis, kata Yiwa, ia terpaksa mandara (bepergian mencari nafkah) dari kampung ke kampung.

Jika menyanyi pada musim panen, jelas Yiwa, ia biasa minta bayaran dengan uang. Satu kali tampil, lanjutnya, dibayar Rp 100.000,00. Namun pada musim lapar atau rawan pangan saat ini, ia rela dibayar dengan beras atau jagung. "Apa saja yang dikasih saya terima. Yang penting bisa makan," ujarnya.

Yiwa mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya, bahan pangan keluarganya masih bisa berharap dari jagung di kebun. Namun pada tahun ini, demikian Yiwa, seluruh tanaman jagung yang ada di ladangnya kering sebelum dipanen akibat tidak ada hujan.
"Untuk bisa makan, saya harus keluar ke kampung lain. Saat ini tidak ada lagi harapan karena jagung sudah mati semua. Saya berusaha agar anak-anak saya tetap makan. Tetapi sekarang, anak saya mati karena makan jagung," tutur Yiwa, dengan nada suara yang hampir hilang menahan tangis.

Kasus ini sementara dalam penyelidikan Polsek Melolo. Kapolsek Melolo, Ipda Basit Algadrie, yang ditemui Rabu siang mengatakan, polisi telah mengambil sampel muntah dari para korban untuk diteliti lebih jauh penyebab keracunan. Sisa jagung yang dimakan korban sebagai barang bukti.

Basit mengatakan, penyelidikan yang dilakukan polisi hanya untuk mengetahui jangan sampai ada unsur kesengajaan dalam kejadian itu. Sedangkan jenazah korban tidak diotopsi karena pihak keluarga sudah menerima kematian Obet.

*copyright by pos kupang online

0 komentar:

Poskan Komentar