KACANG SANDLE TAK BISA DIPANEN

Written By Admin on Selasa, April 13, 2010 | Selasa, April 13, 2010

WAINGAPU - Kekeringan yang melanda wilayah Sumba Timur, selain mengakibatkan tanaman jagung dan padi mati, tetapi juga membuat tanaman tahan panas seperti kacang tanah Sumba, atau Kacang Sandel, tak bisa dipanen.

Tanaman kacang tanah pada kebun petani memang tampak masih hijau daunnya, namun tidak ada hasilnya. Saat dicabut, hanya akar saja, tidak ada biji kacang. Petani kacang tak hanya kehilangan penghasilan, tapi juga merugi hingga jutaan rupiah.


Seperti yang dialami Marta Uli (57) dan suaminya, Marten Mara Rihi (71), warga Dusun Laipori, Desa Palakahembi, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur.


Ditemui di kediaman mereka, Sabtu (10/4/2010) siang, pasangan suami isteri ini menuturkan bahwa kekeringan kali ini tidak hanya menyebabkan mereka kehilangan pendapatan tetapi hilang modal atau merugi.


"Tahun ini benar-benar sulit. seluruh tanaman kacang tanah dan jagung mati. Padahal hidup kami dari kebun kacang tanah dan jagung," kata Marta yang mengaku memiliki 60 are lahan kacang tanah.


Marta mengungkapkan, biaya pengolahan 60 are tanaman kacang tanah miliknya mencapai Rp 350 ribu. Belum termasuk biaya untuk membeli bibit dan lain-lain. Kalau curah hujan normal, katanya, produksi kacang tanah di kebunnya bisa mencapai 40 karung (40 kilogram).


"Kalau saya jual, harganya Rp 50.000/blek. Selain untuk bibit sendiri dan dijual ke pasar, Dinas Pertanian juga membeli kacang tanah dari saya untuk benih. Tetapi sekarang tidak bisa lagi. Seluruh kacang tanah mati kekeringan," tandas Marta.


Dengan memperoleh 40 karung, setara 8 blek, sebenarnya ibu rumah tangga ini bisa memperoleh pemasukan Rp 400 ribu.
Marta mengaku, tahun lalu masih dapat sembilan blek kacang tanah. Namun tahun ini tidak ada sama sekali. Padahal, untuk 60 are lahan kacang tanahnya membutuhkan 50 kg kacang tanah untuk bibit. Selain di lahan miliknya, Marta mengaku, tanaman kacang tanah untuk benih di lahan percontohan milik Dinas Pertanian juga mati.

"Jadi, tahun depan untuk bibit saja sudah tidak ada," tambah Marta.
Saat ini, harapan Marta dan keluarganya hanya pada ternak ayam dan kambing. Namun Marta mengaku, jika tidak ada sumber pendapatan lain maka ternak dan kambing juga akan habis.

"Dari Januari sampai sekarang sudah 10 ekor kambing saya jual untuk beli beras. Kebutuhan lain, saya jual telur ayam. Untung sekolah anak tidak ada biaya," keluh Marta.


[Sumber : Pos Kupang]

0 komentar:

Poskan Komentar