KELAPARAN, WARGA EMPAT DESA MULAI MENGKONSUMSI IWI

Written By Admin on Selasa, April 13, 2010 | Selasa, April 13, 2010

WAINGAPU--MI: Sedikitnya 753 keluarga yang bermukim di empat desa di Kecamatan Pinu Pahar, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, mulai mengonsumsi iwi atau ubi hutan karena cadangan pangan mereka habis.

Mereka yang tidak memiliki lagi bahan pangan seperti beras, ketela pohon, jagung, dan kacang tanah, itu tersebar merata di Desa Kawahang, Tawui, Lailunggi, dan Wangga Mbewa.


Hanya dua desa di wilayah kecamatan itu yang luput dari ancaman kelaparan, yakni Ramok dan Mahaniwa. Dua desa itu memiliki sumber air yang kemudian dimanfaatkan warga mengairi areal persawahan.

Kecamatan Pinu Pahar berjarak sekitar 200 kilometer (km) dari Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur. Wilayah di pantai selatan Sumba tersebut merupakan daerah paling parah yang didera kelaparan dari 156 desa yang dilaporkan pemerintah Kabupaten Sumba Timur.

Kelaparan terjadi akibat kemarau panjang yang memicu tanaman pangan gagal panen. Meski kondisi sudah demikian, sampai Senin (12/4) bantuan pangan belum disalurkan ke wilayah terpencil tersebut.

Iwi atau ubi hutan berukuran besar biasa dijadikan pangan alternatif oleh warga pedalaman Sumba Timur saat kelaparan melanda. Tetapi, mengonsumsi iwi harus hati-hati karena bahan pangan itu mengandung zat berbahaya yang kerap menimbulkan mual, bahkan kematian.

"Kami tidak tahu zat apa di dalam iwi, tetapi kami tidak punya makanan lagi," tutur Magdalena Utang Manggi, 40, warga Desa Lailungga.

Menurutnya, untuk menghilangkan racun yang belum diketahui jenisnya itu, iwi yang diambil dari hutan harus diolah menurut cara-cara konvensional sebelum dikonsumsi. Iwi harus dikupas, kemudian diiris menjadi bagian-bagian kecil, selanjutnya dibungkus mengunakan karung plastik sebelum direndam di dalam air sungai selama dua hari dan dua malam. "Selama direndam itulah racunnya keluar," katanya.

0 komentar:

Poskan Komentar