HASIL UN SMP 2010, NTT KEMBALI TERPURUK

Written By Admin on Jumat, Mei 07, 2010 | Jumat, Mei 07, 2010

JAKARTA - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh mengumumkan bahwa sebanyak 3.254.365 siswa sekolah menengah pertama (SMP) atau 90,27 persen peserta lulus Ujian Nasional Utama.

Mendiknas menyebutkan, dari total 3.605.163 peserta UN terdapat 350.798 (9,73 persen) siswa yang mengulang UN. Angka kelulusan itu, jika dibandingkan tahun 2009 dengan jumlah peserta UN 3.441.815 siswa, berarti mengalami penurunan.

"Tingkat kelulusannya tahun 2009 lalu sebesar 95,09 persen. Tetapi untuk tahun 2010, mudah-mudahan bisa bertambah, mengingat masih ada kesempatan untuk ujian ulang," ungkap M Nuh dalam konferensi pers mengenai pengumuman hasil UN SMP dan sederajat di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Kamis (6/5) sore.


Disebutkan, dari 9,73 persen siswa yang mengulang UN, ada beberapa provinsi yang paling tinggi persentase mengulangnya, yakni Nusa Tenggara Timur (39,87 persen ), Gorontalo (38,80 persen), dan Bangka Belitung (34,69 persen). "Paling kecil persentase mengulangnya adalah provinsi Bali yakni 1,4 persen. Artinya, tingkat kelulusan di provinsi Bali tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya," kata Mendiknas.

Adapun persentase siswa yang mengulang menurut jumlah mata pelajaran (MP), yakni ada 21,19 persen atau 74.317 siswa mengulang satu mata pelajaran. Sebanyak 37,14 persen atau 130.277 siswa mengulang dua mata pelajaran. Sebanyak 29,41 persen atau 103.185 siswa mengulang tiga mata pelajaran dan 12,26 persen atau 43.019 siswa mengulang empat mata pelajaran.


Sementara itu, Mendiknas juga menyebutkan, terdapat 561 (1,31 persen) sekolah yang kelulusannya nol persen dengan jumlah siswa 9,283 (0,26 persen). Di sisi lain, lanjut Mendiknas, ada 17.852 sekolah (41,64 persen) sekolah yang kelulusannya 100 persen dengan jumlah siswa 1.116.761 siswa (31,32 persen).

Selanjutnya, Mendiknas menyampaikan daftar 102 sekolah yang masuk dalam 102 besar yang memiliki nilai rata-rata UN tertinggi. Untuk peringkat pertama adalah SMP Negeri 1 Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur dengan jumlah peserta 394 siswa. "Lulus 100 persen dan nilai rata-rata UN 9,38," ujarnya.

Wamendiknas Tantang Pemprov NTT
Terpisah, Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) RI, Fasli Djalal menantang pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota di NTT untuk dapat menemukan solusi meningkatkan persentase kelulusan siswa di NTT yang jadi juru kunci di Indonesia tahun ini. "Kami tantang pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di NTT mau naik berapa angka persentase kelulusan siswanya tahun depan.

Kemdiknas siap bantu kalau pemprov atau kabupaten/kota punya program menaikkan mutu lulusan, pusat siap bantu," ungkap Fasli Djalal saat rapat dengar pendapat (RDP) Komite IV DPD RI dengan jajaran Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) di Ruang GBHN, Gedung DPD RI, Senayan-Jakarta, Selasa (4/5).

Menurut Fasli, persentase kelulusan sekolah menengah di NTT tahun ini sangat jeblok, bahkan berada diurutan terakhir dari 33 provinsi di Indonesia. Karena itu, katanya, melalui keanggotaan DPD yang ada, Fasli meminta bantuan agar bagaimana berkoordinasi dengan pemerintah daerah, terutama mendorong daerah agar menyiapkan program-program peningkatan mutu pendidikan di daerah, dan diusulkan ke pusat untuk mendapat bantuan.

"Ada beberapa daerah di Indonesia yang persentase kelulusannya rendah sekali termasuk NTT. Untuk daerah-daerah ini, Kemdiknas akan memberi perhatian khusus melalui bantuan-bantuan peningkatan mutu, semoga ada koordinasi baik antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota," kata Fasli.

Fasli mengatakan, daerah diminta untuk melakukan analisa secara mendalam, faktor apa yang menyebabkan para siswa gagal dalam Ujian Nasional (UN) utama. "Ini harus bisa ditemukan akar persoalannya, lalu dibuatkan program yang dapat mendukung perbaikan/peningkatan mutu, dan pemerintah pusat siap membantu," tandas Fasli.

Menyikapi ini, anggota Komite IV DPD RI asal NTT, Sarah Lerry Mboeik yang ditanyai Timor Express usai RDP mengatakan, apa yang disampaikan Wamendiknas itu akan dia tindaklanjuti ke daerah, menyampaikan ke pimpinan daerah serta berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota maupun provinsi untuk menyikapi hal ini.


Menurut Lerry, koordinasi yang akan dia lakukan adalah bersama-sama menginventarisir persoalan-persoalan yang menyebabkan sehingga presentase kelulusan NTT tahun ini jeblok. "Saya akan tindaklanjuti serta mencari tau apa alasan terutama faktor yang menyebabkan banyak siswa di NTT tidak lulus.

Ini akan kami inventarisir dan memfasilitasi dengan Kemdiknas agar masalah-masalah ketidaklulusan itu bisa diselesaikan, apalagi Kemdiknas sendiri sudah katakan bahwa telah menyiapkan anggaran untuk mengatasi masalah ketidaklulusan siswa tersebut," jelas Lerry.

Turun 10,12 Persen

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT, Thobias Uly mengatakan persentase kelulusan UN SMP 2010 mengalami penurunan hingga 10,12 persen dibanding 2009 lalu. Dari hasil rekapitulasi terdapat beberapa sekolah yang berhasil lulus seratus persen, namun ada pula yang lulus nol persen.


"Kelulusan UN SMP 2009 lalu sebesar 70,25 persen dari 62.353 peserta. Sedangkan untuk tahun 2010, terdapat 72.450 peserta, dengan hasil kelulusan 60,13 persen," katanya.
Dari jumlah peserta ini kata dia, mereka yang harus mengikuti UN ulangan tanggal 17-20 Mei nanti, berjumlah 28.884 siswa. Kelulusan tahun ini memang mengalami penurunan, sebesar 10,12 persen.

Dari presentase kelulusan yang ada, Tobias mengungkapkan, terdapat 863 sekolah penyelenggara yang tersebar di seluruh NTT, dan yang berhasil lulus seratus persen sebanyak 120 sekolah. "Masih ada sekolah yang berhasil lulus seratus persen, baik sekolah negeri maupun swasta. Namun ada 26 sekolah yang lulus nol persen," terang Tobias.


Dari 21 kabupaten/kota yang ada di NTT kata dia, presentase kelulusan UN SMP Kabupaten Belu berada pada posisi teratas, dengan presentase lulus 92,90 persen dari 5.690 peserta. Dengan demikian hanya 404 siswa yang tidak lulus. Sedangkan Kabupaten Ende menduduki posisi buntut dimana 4.541 siswa hanya 1.437 peserta yang dinyatakan lulus atau 31,65 persen dibanding tahun 2009 hanya 47,45 persen.


"Yang bisa lulus seratus persen itu bukan cuma yang siswanya sedikit, tapi ada juga yang siswanya banyak seperti di kabupaten Sumba Barat Daya. Ada SMP Negeri Kodi dengan jumlah peserta 232 siswa, tapi bisa lulus seratus persen," bebernya.


Yang menarik kata dia, jika dibandingkan, dengan SMP Karanggi Rowa dari kabupaten Sumba Tengah dengan cuma dua siswa namun tidak satupun yang lulus. Kegagalan beberapa sekolah yang tidak mampu meluluskan satupun siswanya kata dia, dipengaruhi beberapa hal. Namun hal tersebut menjadi bahan evaluasi untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan di daerah ini.


"Kebanyakan sekolah yang lulus nol persen itu adalah SMP Satu Atap dan SMP Terbuka. Hal ini memang kita akui seperti SMP Satu Atap ini dibawah manajemen SD. Sedangkan SMP Terbuka itu merupakan sekolah yang didirikan khusus untuk menampung anak-anak yang tidak terakses, sehingga pelayanan terhadap mereka itu kurang fokus," jelasnya.

[copyright by : timorexpress online]

0 komentar:

Poskan Komentar