SUPIR CAMAT KANATANG DIPASUNG

Written By Admin on Minggu, Mei 09, 2010 | Minggu, Mei 09, 2010

WAINGAPU - Sering berbuat onar, Dominggus Dapamuri (46), sopir mobil dinas Camat Kanatang, dianiaya dan dipasung keluarga besarnya selama sepuluh hari sebelum dibebaskan polisi, Kamis (7/5/2010).

Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan IC ini dipasung pihak keluarga sejak 27 April lalu setelah terlibat keributan dengan warga Desa Temu, Kecamatan Kanatang. Namun korban membantah membuat onar dan mengatakan keributan terjadi karena ada warga di desa itu memancing amarahnya.

Dari perilaku dan cara bicaranya, tidak terlihat sama sekali bahwa korban sedang terganggu jiwanya. Korban mengatakan, keributan yang berujung pada penganiayaan dan pemasungan dirinya berawal dari ulah sekelompok warga di Kelurahan Temu.

Ia menuturkan, pada malam tanggal 27 April lalu, dirinya hendak ke rumah tukang urut yang dipanggilnya dengan sebutan nenek. Sampai di rumah tukang urut tersebut ia memanggil penghuni rumah. Namun jawaban yang ia terima kurang bersahabat.

"Ada jawaban, siapa kamu. Saya tidak tahu itu suara siapa. Saya jawab saya. Orang tersebut tanya lagi, kamu buat apa ke sini. Kamu berani ya. Karena dia bertanya seperti itu, saya bilang kalau kamu duluan saya terima. Setelah itu saya bergeser ke sudut rumah. Tiba-tiba ada orang menjerat saya dan seketika massa sudah berkumpul. Mereka membanting saya ke tanah dan menganiaya saya," kata Dominggus sambil memperlihatkan luka-luka di tangan dan punggung.

Dominggus mengatakan, setelah dijerat dan diikat kaki dan tangannya, ia dibawa massa ke rumah salah satu kerabatnya. Kemudian dipindahkan ke rumah salah satu adik tirinya, Hina Ndjurumana alias Hendro. Masih pada malam yang sama, ia kemudian dipindahkan ke rumahnya di Desa Kuta dan langsung dipasung.

"Saat itu saya bertanya kenapa mereka memperlakukan saya seperti itu, tetapi tidak ada yang menjawab. Awalnya, saya dipasung di lantai. Tetapi hari kedua, tanggal 28 April mereka membuat pasung yang lebih berat. Saya kemudian dipindahkan ke tempat tidur. Saya masih sempat meminta kepada mereka (keluarg yang memasung dirinya, Red) agar membawa saya ke polisi jika memang bersalah. Namun mereka tidak menghiraukan permintaan saya," katanya.

Tidak puas dengan perlakuan pihak keluarga, dirinya kemudian meminta istri dan keluarganya untuk mendatangkan tim doa. "Ternyata tim doa bilang tidak ada apa-apa. Saya tidak gila. Tim doa minta agar saya dilepas. Tetapi keluarga besar saya tidak hiraukan. Akhirnya saat itu saya minta agar dua mur yang mengapit kaki saya diperlonggar agar saya bisa bergerak dan bisa tidur. Itu saja yang mereka kabulkan," kata Dominggus yang mengaku tidak bisa menghubungi polisi atau keluarganya di tempat lain untuk membantunya karena handpone-nya juga diambil pihak keluarga.

Dominggus mengaku selama dipasung dirinya selalu berdoa agar diberi jalan bisa bebas. Apalagi dirinya tidak tega melihat sang istri selalu menangis dan repot mengurus dirinya setiap hari. Untuk menghilangkan stress, Dominggus mengaku, menghibur diri dengan menyanyi. Sementara untuk memanggil istrinya, dia menggunakan toa atau pengeras suara. "Selama sepuluh hari makan minum, buang kotoran di tempat. Isteri urus semua. Mereka benar-benar memperlakukan saya seperti orang gila," katanya sedikit kesal.

Dominggus mengaku tidak mengenal satu per satu orang yang menjerat dan menganiayanya malam tanggal 27 April karena jumlahnya cukup banyak. "Yang saya kenal hanya orang yang menjerat saya. Namanya, Hangidi Mila. Dia masih pangkat anak dengan saya. Sedangkan yang pasang pasung saya pertama Hendro. Dia kerja di Dinas Nakertrans Kabupaten Sumba Timur. Semua kayu yang dipakai pasung saya dari rumahnya dia. Saya juga sempat dibawa ke rumahnya. Hendro itu adik saya satu mama lain bapak. Selain Hendro juga ada Fery Maupanji. Sedangkan yang memasang pasung kedua Lapu Ndapakamang disaksikan Ngiru Talumeha, staf Desa Kuta, Fery Maupanji, kepala desa dan keluarga yang lain," beber Dominggus.

Ia mengatakan, dirinya sempat membuat acara adat dengan menikam satu ekor babi untuk berdamai dengan keluarga. Semua keluarga termasuk orang-orang yang memasungnya hadir. "Saya kira setelah makan daging babi, saya dilepas. Ternyata habis makan mereka pulang. Kaki saya tetap dipasung. Saya benar-benar kecewa tetapi pasrah," katanya.

Doa Dominggus terkabul. Pada Kamis (8/5/2010), pegawai BRI yang datang ke rumahnya untuk menagih kredit karena dirinya sudah mengutang satu bulan. Saat itulah ia menumpahkan segala kesedihannya dan meminta bantuan untuk dilaporkan ke polisi agar ia bisa dibebaskan. Atas bantuan pegawai BRI yang minta namanya dirahasiakan tersebut, Kamis malam, Polisi langsung datang membebaskan Dominggus.

Ketika mengetahui polisi datang, Dominggus tampak senang. Dia langsung meminta bantuan polisi agar segera membebaskannya dan menceritakan kronologis hingga dirinya dipasung. Saat itu yang dipasung kaki kirinya. Sedangkan kaki kanan dibiarkan bebas. Sementara sang isteri, Uru Ana Hida terlihat bahagia. Anahida mengaku selama ini suaminya tidak pernah menunjukkan perilaku aneh.

"Yang saya tahu dia pergi bawa oto Bapak Camat dan pulang malam ke rumah. Tidak ada yang aneh-aneh. Karena itu saya kaget ketika suami saya dipasung. Mereka bilang dia gila. Saya bingung. Saya tidak bisa berbuat banyak. Saat suami saya dipasung saya hanya menangis dan memilih berada di luar pagar rumah. Jadi saya tidak tahu apa yang terjadi dengan suami saya. Saya sedih, kecewa karena keluarga memperlakukan suami saya seperti itu. Apalagi saat dia dipasung mereka tidak ada yang datang melihat," kata Anahida dengan raut wajah sedih.

Pada malam yang sama, Dominggus langsung dibawa ke Mapolres Sumba Timur untuk dimintai keterangan. Sang isteri juga ikut mendampinginya bersama salah satu kerabatnya. Malam itu juga polisi langsung melakukan visum terhadap luka di tubuh Dominggus. Setelah meminta keterangan Dominggus, pada Jumat (7/5/2010), polisi langsung melayangkan panggilan kepada saksi-saksi dan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.

[copyright by : poskupang online]

0 komentar:

Poskan Komentar