DELAPAN PULUH TIGA IMIGRAN GELAP TERDAMPAR DI PULAU SALURA

Written By Admin on Selasa, Juni 29, 2010 | Selasa, Juni 29, 2010

WAINGAPU - Imigran gelap asal Afghanistan kembali terdampar di wilayah Perairan Sumba Timur. Kali ini imigran yang berjumlah 83 orang itu terdampar di Pulau Salura, salah satu pulau di Laut Selatan Sumba yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Sumba Timur.

Informasi tentang imigran asal Afghanistan terdampar di Pulau Salura itu diperoleh dari Camat Karera, Oria A Rara Mata, melalui telepon kepada Asisten Tatapraja Setda Sumba Timur, Semuel Pekulimu, S.Sos, Senin (28/6/2010).

Dalam pembicaraan melalui telepon kepada Semuel, Oria menyampaikan, para imigran itu ditemukan warga Salura pada Minggu pagi. Warga kemudian melaporkan kepada aparat kepolisian yang ada di pulau itu. Diduga, para imigran itu hendak menyeberang ke Australia. Perahu yang membawa mereka diduga terhempas gelombang dan menyeret mereka hingga terdampar di salah satu pulau di Selatan Sumba.

Oria mengatakan, dari 83 orang imigran tersebut, 15 orang di antaranya perempuan dan 12 orang anak-anak. Sampai Senin malam, para imigran belum berhasil dievakuasi dari Pulau Salura ke Nggongi, Kecamatan Karera, karena cuaca buruk. Semuel mengatakan, para imigran baru bisa dievakuasi saat cuaca membaik.

Oria mengatakan, pihaknya belum bisa mendapat keterangan dari para imigran karena kendala bahasa. Para imigran pada umumnya menggunakan bahasa arab dan bahasa urdhu. Sementara itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Timur dan Polres Sumba Timur langsung berkoordinasi untuk menjemput para imigran tersebut. Pihak Polres Sumba Timur mengerahkan tujuh mobil untuk menjemput para imigran. Sedangkan Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesejahteraan Sosial langsung menyiapkan logistik untuk kebutuhan para imigran selama di Sumba Timur.

Asisten Tata Praja Setda Sumba Timur, Semuel Pekulimu, S.Sos mengungkapkan, para imigran untuk sementara akan ditampung di Polres Sumba Timur sambil menunggu lembaga internasional yang menangani masalah imigran, IOM datang menjemput mereka. Samuel mengatakan, letak Sumba Timur yang secara geografis berbatasan dengan Australia menjadi salah satu daerah transit para imigran dari Timur Tengah. Karena itu, ia berharap pemerintah pusat juga memberikan perhatian serius terhadap masalah ini.

"Pemerintah daerah akhirnya yang dibebani dengan masalah imigran gelap ini. Sementara IOM yang sebelumnya berjanji akan mengembalikan biaya yang dikeluarkan pemerintah daerah dalam menangani para imigran juga tidak ada kabar berita. Padahal seluruh bukti pengeluaran pemerintah daerah untuk menangani para imigran yang lalu telah kita serahkan ke IOM," kata Semuel.

[Sumber : Pos Kupang]

0 komentar:

Poskan Komentar