RENDAH, PENGETAHUAN DOKTER TENTANG BTcLS

Written By Admin on Kamis, Juli 01, 2010 | Kamis, Juli 01, 2010

WAINGAPU - Pengetahuan perawat dan dokter di wilayah NTT tentang Basic Trauma and Life Support (BTcLS) masih rendah. Padahal BTcLS membantu menyelamatkan hampir 70 persen pasien kecelakaan atau yang terserang penyakit jantung mendadak.

Kenyataan ini dikatakan Direktur Pelatihan BTcLS Jakarta, dr. Suryadi Sudarmo, ketika ditemui di sela-sela pelatihan BTcLS kepada perawat dan dokter se-Pulau Sumba di aula serba guna Rumah Sakit (RS) Imanuel Sumba, Rabu (30/6/2010) siang.

Suryadi mengatakan, BTcLS mengedepankan pengetahuan dan keterampilan penanganan pasien gawat darurat dalam 10 menit pertama. Alasannya, 10 menit pertama bagi pasien gawat darurat sangat menentukan apakah pasien bisa tertolong atau tidak. Selama ini, kata Suryadi, banyak pasien gawat darurat yang tidak tertolong karena pertolongan terlambat.

Kegiatan yang direncanakan berlangsung sampai 3 Juli mendatang itu akan menekankan kemampuan perawat dan dokter dalam menangani pasien gawat pada sepuluh menit pertama.

Materi yang disampaikan dalam pelatihan itu menyangkut kompetensi base dalam penanganan pasien gawat darurat. "Pelatihan ini tidak sekadar memberikan pengetahuan, tapi juga keterampilan kompetensi base kepada perawat dan dokter. Pelatihan ini pertama kali di NTT," kata Suryadi.


Kompetensi base dimaksud, kata Suryadi, meliputi tindakan saat menerima pasien, menilai, mengambil tindakan sesuai dengan jenis cedera pasien mulai dari awal hingga pasien masuk kamar operasi. BTcLS, jelas Suryadi, menekankan keterampilan tindakan pra rumah sakit yaitu di ambulans sampai pelayanan UGD (unit gawat darurat).

Dia mengungkapkan, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh perawat akan membantu memperbaiki pelayanan rumah sakit di daerah. "Kita boleh ketinggalan alat, tapi cara berpikir sekarang," ujarnya.

Pelatihan BTcLS di Sumba Timur ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, pelatihan yang sama diberikan kepada para dokter pada akhir 2009 lalu.

Mengapa harus perawat, Suryadi mengatakan, perawat perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan BTcLS karena perawat adalah orang pertama yang menerima dan memberikan tindakan kepada pasien. Perawat juga mitra kerja dokter sehingga harus memiliki standar minimal kompetensi untuk melayani pasien sekaligus memudahkan kerja di rumah sakit.

Direktur Rumah Sakit Umum Imanuel, dr. Dany Christian, yang saat itu bersama Suryadi menambahkan, arah pelayanan di rumah sakit ini ke depan akan mengarah kepada BTcLS. "Kita sudah pesan ambulans dengan spesifikasi khusus. Ambulans ini akan menjadi rumah sakit berjalan untuk memberikan pertolongan pertama bagi pasien gawat darurat," kata Dany.

[Sumber : Pos Kupang]

0 komentar:

Poskan Komentar