PABRIK RUMPUT LAUT BUTUH 40 M

Written By Admin on Sabtu, November 06, 2010 | Sabtu, November 06, 2010

WAINGAPU - Dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan pabrik rumput laut, di Pahunga Lodu Kabupaten Sumba Timur Rp 40 miliar jika ingin pabrik ini berkembang menjadi industri yang bersaing dengan produk sejenis di daerah lain. Dana sebesar itu selain untuk peningkatan kapasitas pabrik juga untuk kepentingan pengadaan bahan baku.

Hal itu disampaikan Direktur Pabrik Rumput Laut, IGA Nyoman Sitawati, di depan Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Jack Malo Bulu, B.Sc, dan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan dari empat kabupaten se-Daratan Sumba yang berkunjung ke pabrik itu, Selasa (2/11/2010).

Dalam pemaparannya tentang rencana pengembangan pabrik rumput laut tersebut, Sitawai juga mengeluhkan tentang terbatasnya bahan baku produksi lokal untuk memenuhi kebutuhan pabrik sehingga pihaknya harus mendatangkan bahan baku dari daerah lain seperti Lembata, Flores Timur, Sikka, Sabu Raijua dan juga dari Kabupaten Kupang. Padahal dari segi kualitas, rumput laut produksi lokal jauh lebih bagus.

Kunjungan ke pabrik rumput laut di Desa Tanamenang, Kecamatan Pahunga Lodu, Sumba Timur pada hari itu sebenarnya dalam kaitan dengan kesepakatan empat kabupaten se-Daratan Sumba untuk mendukung pabrik tersebut.

Dukungan tersebut dalam bentuk penyediaan bahan baku maupun dukungan dana dalam bentuk penyertaan saham.

Kepala Bagian (Kabag) Humas Setda Sumba Timur, Marthen Z. Wollagole, S.H yang ikut dalam kunjungan tersebut menjelaskan, pada dasarnya empat daerah di Daratan Pulau Sumba siap mendukung pabrik rumput laut tersebut. Dalam pembicaraan awal, yang dibicarakan soal dukungan bahan baku.

Keempat pemerintah daerah, kata Marthen, sepakat untuk membagi tiga klaster rumput laut. Tiga kabupaten akan menjadi klaster pertama yaitu, pembibitan, dan klaster kedua, pembudidayaan untuk mensuport bahan baku. Sedangkan Sumba Timur menjadi klaster ketiga yaitu pengolahan.

Sedangkan dukungan dalam bentuk penyertaan saham, demikian Marthen, belum dibicarakan karena masih menunggu bupati dari tiga kabupaten, yaitu Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya yang tidak sempat hadir dalam kunjungan ke pabrik rumput laut kali ini. Meski demikian dipastikan, Sumba Timur akan menguasai sekitar 50 persen saham dari pabrik tersebut.

Bahas Nama
Selain bahan baku dan sarana prasarana, yang masih menjadi hambatan pengembangan pabrik rumput laut Sumba Timur, yaitu soal nama dan bentuk perusahaan yang akan menaungi pabrik tersebut.

Sejauh ini, pemerintah daerah dan DPRD belum membahas dan menyepakati bentuk dan nama perusahaan yang akan menaungi pabrik tersebut dengan alasan masih melakukan pengkajian. Pada nama dan bentuk perusahaan, menurut Sitawati sangat penting untuk kepentingan administrasi eksport produk rumput laut dari pabrik rumput yang ada.

Menurutnya, pembeli di pasar internasional tidak akan gegabah melakukan kerjasama jika belum ada kejelasan tentang nama dan bentuk perusahaan. Selama ini, ekspor masih melalui Bali dan Surabaya.

Rancangan peraturan daerah tentang nama dan bentuk perusahaan pabrik rumput laut sebenarnya sempat dibawa ke sidang paripurna DPRD Sumba Timur baru-baru ini. Namun pembahasannya ditunda karena ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi.

[Sumber : Pos Kupang]

0 komentar:

Poskan Komentar